Dulu, komedian berhadapan dengan penguasa. Kini, yang jadi lawan justru sesama masyarakat. Sungguh ironis.
Miing Bagito masih ingat betul suasana itu. Dalam sebuah podcast yang dipandu Abraham Samad, ia bercerita bagaimana dirinya pernah dipanggil 'Laksus' di masa Orde Baru. Laksus, atau Pelaksana Khusus, adalah ujung tombak Kopkamtib di daerah. Tugasnya jelas: menjaga stabilitas, apa pun caranya.
Mereka biasanya muncul setelah seorang komedian melontarkan lawakan yang dianggap 'nyerempet-nyerempet' pemerintah. Istilah kekiniannya, komedi tepi jurang. Aksi panggung direkam, lalu si komika dipanggil untuk dimintai penjelasan. Apa maksud sebenarnya di balik candaan itu?
“Kalau kita bisa menjelaskan dengan baik, maka kita akan dilepas dengan baik pula,” ujar Miing.
Begitu katanya. Prosesnya memang menegangkan, tapi ada ruang dialog. Selama niatnya murni untuk hiburan, tanpa agenda politik terselubung, biasanya urusan selesai. Tidak serta-merta dijebloskan ke penjara.
Memang, politik Orde Baru terasa jauh berbeda dengan sekarang. Dulu, ruang publik seperti mati suri. Kini, hidup dan semarak bahkan mungkin terlalu semarak. Kontrol negara dulu sangat ketat, sentralistik. Tapi anehnya, masyarakat tidak saling lapor seperti yang kerap kita saksikan belakangan ini.
Artikel Terkait
Jembatan Bolong dan Trotoar Hancur: Aksi Pencuri Fasilitas Publik Mengancam Warga Jakarta
IKN di Ujung Tanduk: Kota Megah atau Kota Hantu?
Gelar Bergelimpang, Dompet Menipis: Ironi Lulusan Perguruan Tinggi
Panik di Internal PSI: Ahmad Ali Buru-buru Klarifikasi Soal Gibran Lawan Prabowo