"Di jarak spesifik itu, jauh di 'atas' sana, di ruang angkasa yang sangat-sangat dalam, tidak ada masa lalu, kini, atau nanti. Yang ada cuma keabadian."
Dia melanjutkan, meski waktu membeku, ruang tetap ada di sana. Artinya, alam semesta di balik cakrawala itu mungkin bisa dihuni walau hanya oleh cahaya atau entitas serupa cahaya.
Tapi, tentu saja, tidak semua ilmuwan sepakat. Bagi banyak ahli, waktu tidak benar-benar membeku di cakrawala kosmik. Itu cuma ilusi perspektif.
Dari sudut pandang kita, peristiwa di sana tampak melambat karena alam semesta yang mengembang meregangkan cahaya dalam perjalanannya. Bayangkan kamu berdiri di cakrawala itu dan menengok ke Bumi. Kehidupan di sini mungkin terlihat diam, padahal sebenarnya orang-orang masih sibuk beli kopi atau terjebak macet seperti biasa.
Klaim Guillen ini jelas memantik perdebatan. Kontroversial, dan masih sebatas spekulasi tanpa bukti kuat. Tapi, paling tidak, dia berani mengajukan pertanyaan yang jarang terjamah: di mana, secara harfiah, Tuhan mungkin bersemayam?
Artikel Terkait
Polisi Gagalkan Peredaran Sabu dan Ribuan Ekstasi di Jakarta-Bekasi
Jenazah Capt Andy Tiba di Tigaraksa, Keluarga Siap Beri Penghormatan Terakhir
DPR Dapat Awasi Hakim dan Jaksa, Lalu Siapa yang Mengawasi DPR?
Bima Arya Tinjau Longsor Cisarua, Janjikan Hunian Sementara untuk Korban