Harga Emas Dunia Koreksi, Tetap Bertahan di Atas USD 5.000

- Rabu, 11 Februari 2026 | 07:50 WIB
Harga Emas Dunia Koreksi, Tetap Bertahan di Atas USD 5.000

MURIANETWORK.COM - Harga emas dunia mengalami koreksi pada perdagangan Selasa (10 Februari 2026), menghentikan reli kenaikan dua hari berturut-turut. Meski demikian, logam mulia ini masih bertahan kokoh di atas level psikologis USD 5.000 per troy ons, didukung oleh sejumlah faktor fundamental yang tetap solid. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan melemahnya data ekonomi Amerika Serikat yang memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral.

Kondisi Pasar dan Sentimen Analis

Pada penutupan pasar, harga emas spot tercatat melemah 0,65 persen menjadi USD 5.025,12 per troy ons. Meski terjadi koreksi, volatilitas tinggi yang terjadi belakangan ini dinilai oleh sejumlah pelaku pasar berpotensi mereda dan berganti dengan reli baru. Alasan utamanya, fondasi penggerak kenaikan harga emas dalam beberapa bulan terakhir dinilai belum goyah.

David Miller, pengelola Gold Enhanced Yield ETF di Strategy Shares, menyoroti peran kuat bank sentral global sebagai pembeli utama. "Bank sentral kemungkinan besar akan terus membeli emas," ujarnya.

Miller melanjutkan, pembelian dalam skala besar itu menciptakan dinamika pasokan dan permintaan yang unik. "Pembelian tersebut terus melampaui pasokan, yang masih relatif terbatas karena bisnis pertambangan emas selama bertahun-tahun tergolong kurang menguntungkan," jelasnya.

Dukungan dari Data Ekonomi AS

Koreksi harga emas terjadi di tengah aliran data ekonomi AS yang justru mendukung logam kuning dalam jangka menengah. Serangkaian indikator aktivitas ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan telah menggeser ekspektasi pasar terhadap sikap Federal Reserve.

Data-data tersebut mencakup penjualan ritel Desember yang stagnan secara tak terduga, penurunan kelompok kontrol PDB sebesar 0,1 persen, hingga jumlah lowongan kerja yang merosot ke level terendah dalam beberapa tahun. Kondisi ini mengisyaratkan permintaan domestis yang mendingin dan tekanan inflasi yang mulai mereda.

Implikasinya, ekspektasi untuk penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini menguat. Situasi ini memberikan landasan fundamental yang lebih kokoh bagi aset seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil, karena daya tariknya meningkat ketika biaya peluang memegangnya menurun.

Penopang Struktural dan Risiko Geopolitik

Di luar faktor suku bunga, permintaan dari sektor resmi atau bank sentral tetap menjadi penopang struktural utama pasar emas. Bank sentral China, misalnya, tercatat memperpanjang pembelian emas untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Januari, menegaskan komitmen diversifikasi cadangan devisanya.

Sementara itu, ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia terus menciptakan permintaan akan aset safe-haven. Meski ada sinyal kemajuan diplomatik awal, ketegangan antara AS dan Iran dinilai masih berlanjut. Kondisi semacam ini menjaga risiko penurunan harga yang dalam tetap terbatas, karena investor cenderung mempertahankan alokasi emas sebagai proteksi portofolio.

Di sisi komoditas logam mulia lainnya, kontrak berjangka perak tercatat turun lebih dalam, yakni sebesar 2,8 persen pada sesi yang sama.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar