MURIANETWORK.COM - Harga emas dunia mengalami koreksi pada perdagangan Selasa (10 Februari 2026), menghentikan reli kenaikan dua hari berturut-turut. Meski demikian, logam mulia ini masih bertahan kokoh di atas level psikologis USD 5.000 per troy ons, didukung oleh sejumlah faktor fundamental yang tetap solid. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan melemahnya data ekonomi Amerika Serikat yang memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter bank sentral.
Kondisi Pasar dan Sentimen Analis
Pada penutupan pasar, harga emas spot tercatat melemah 0,65 persen menjadi USD 5.025,12 per troy ons. Meski terjadi koreksi, volatilitas tinggi yang terjadi belakangan ini dinilai oleh sejumlah pelaku pasar berpotensi mereda dan berganti dengan reli baru. Alasan utamanya, fondasi penggerak kenaikan harga emas dalam beberapa bulan terakhir dinilai belum goyah.
David Miller, pengelola Gold Enhanced Yield ETF di Strategy Shares, menyoroti peran kuat bank sentral global sebagai pembeli utama. "Bank sentral kemungkinan besar akan terus membeli emas," ujarnya.
Miller melanjutkan, pembelian dalam skala besar itu menciptakan dinamika pasokan dan permintaan yang unik. "Pembelian tersebut terus melampaui pasokan, yang masih relatif terbatas karena bisnis pertambangan emas selama bertahun-tahun tergolong kurang menguntungkan," jelasnya.
Dukungan dari Data Ekonomi AS
Koreksi harga emas terjadi di tengah aliran data ekonomi AS yang justru mendukung logam kuning dalam jangka menengah. Serangkaian indikator aktivitas ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan telah menggeser ekspektasi pasar terhadap sikap Federal Reserve.
Artikel Terkait
Pemerintah Pertimbangkan Pajak Tambahan untuk Produk Impor China di E-Commerce
Puncak Arus Balik Lebaran, Pertamina Siagakan Ribuan SPBU dan Layanan Darurat
Multivision Plus Gelar Rights Issue Rp280 Miliar untuk Ekspansi Bioskop dan Produksi
ABM Investama Fokus Optimalisasi Dua Tambang Andalan di Aceh dan Kalteng