Singkatnya, GERD terjadi ketika katup di ujung kerongkongan kita nggak nutup rapat. Akibatnya, asam dari lambung bisa balik arah naik ke atas. Kalau kejadiannya terus-terusan, kerongkongan bakal iritasi dan meradang. Inilah yang bikin perih dan panas di dada, atau yang biasa kita sebut heartburn.
Penyebabnya beragam. Bisa karena faktor fisik seperti obesitas atau hernia, tapi juga dipicu gaya hidup. Makan kebanyakan, langsung tidur setelah makan, hobi ngopi atau alkohol, sampai kebiasaan merokok semua itu bisa memperparah refluks asam.
Gejalanya nggak cuma heartburn. Kadang ada rasa asam atau pahit nyangkut di tenggorokan, sakit waktu menelan, atau perasaan kayak ada yang mengganjal di leher. Lebih ngeri lagi, buat sebagian orang, GERD malah muncul dengan topeng lain: batuk kronis, suara serak, atau serangan asma yang tiba-tiba memburuk, terutama di malam hari.
Kalau dibiarin bertahun-tahun tanpa penanganan, bahayanya makin nyata. Kerongkongan bisa terluka parah, menyempit, atau bahkan mengalami perubahan sel yang berisiko kanker. Namanya Barrett's esophagus.
Kembali ke kasus Lula, meski punya riwayat GERD, belum ada yang bisa memastikan itu jadi biang kerok utamanya. Kemungkinan besar, ini adalah gabungan dari beberapa kondisi medis yang ia alami secara bersamaan. Infeksi, batu ginjal, dan faktor lain mungkin saling berkait dan memperberat keadaan.
Kepergian Lula Lahfah, di usianya yang masih belia, jadi pengingat buat kita semua. Jangan pernah anggap remeh sinyal yang diberikan tubuh. Kenali gejalanya sejak awal, ubah pola hidup, dan yang paling penting: jangan tunda untuk periksa ke dokter. Siapa tahu, dengan deteksi dini, komplikasi serius di masa depan bisa kita cegah.
Artikel Terkait
Angkot Tua Bogor Harus Musnah, Wali Kota Tak Beri Kompromi
Angin Kencang di Sleman Tumbangkan Pohon, Kakek dan Cucu Tewas Tertimpa
Malaysia Tahan Dukungan untuk Dewan Perdamaian Gaza, Tuntut Jaminan Nyata
Dua Pekerja Tewas Tertimbun Longsor di Proyek Jalan Ungasan