Menembus tembok tinggi Keraton Yogyakarta, ada sebuah warisan rasa yang sudah bertahan ratusan tahun. Dulu, hidangan ini cuma ada di meja para raja. Sekarang, siapa pun bisa mencicipinya di Bale Raos restoran yang berdiri tepat di dalam kompleks keraton.
Bale Raos sendiri baru dibuka pada 2004. Gagasan awalnya datang dari Gusti Kanjeng Ratu Hemas, permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwono X, bersama almarhum KGPH Hadiwinoto. Tujuannya jelas: melestarikan kuliner keraton agar tak punah ditelan zaman. Mereka ingin warisan rasa ini tetap dikenal, dari generasi ke generasi.
Nama "Bale Raos" diberikan langsung oleh Ratu Hemas. ‘Bale’ artinya tempat, sementara ‘raos’ berarti rasa. Jadi, kurang lebih ini adalah ruang untuk menikmati rasa dalam arti yang seluas-luasnya. Bagi Sumartoyo, salah satu pendirinya, kuliner bukan sekadar urusan perut. Ini adalah karya budaya.
“Kuliner itu salah satu hasil karya budaya. Selain tari, mungkin ada wayang, ada musik, gamelan, dan sebagainya. Kuliner salah satu kekayaan budaya,” ujar Sumartoyo.
Perjalanan Menuju Jeron Beteng
Lokasi Bale Raos yang ada di dalam benteng keraton bikin pengalaman makannya jadi unik. Perjalanan menuju sana sudah jadi bagian dari petualangan budaya. Dari keramaian jalanan Yogya, Anda pelan-pelan masuk ke kawasan Jeron Beteng. Suasana berubah. Hiruk-pikuk lalu lintas berganti dengan ketenangan yang terjaga.
Nah, di titik inilah perjalanan jadi penting. Anda butuh kendaraan yang nyaman agar bisa tiba dengan tenang, tanpa terburu-buru. Waktu perjalanan itu memberi kesempatan untuk menyesuaikan diri, beralih dari suasana kota menuju atmosfer keraton yang sakral. Kendaraan, dalam hal ini, jadi jembatan antara ruang publik dan ruang budaya. Dengan skutik yang ergonomis dan stabil, perjalanan menuju keraton jadi lancar dan aman. Sebuah pengantar yang pas sebelum akhirnya berhadapan dengan hidangan-hidangan leluhur.
Resep Asli dari Dapur Keraton
Yang menarik, sekitar 70% menu di Bale Raos tidak akan Anda temui di restoran lain. Sebagian besar resepnya digali dari hidangan era Sri Sultan Hamengkubuwono VII, VIII, dan IX. Bahkan beberapa di antaranya konon berasal dari masa Mataram Islam, sejak zaman Hamengkubuwono I.
Artikel Terkait
Anggota DPRD Kudus Divonis Kerja Sosial, Hukuman Pertama di Era KUHP Baru
Sign: Drama Forensik Lawas yang Jadi Cikal Bakal Thriller Medis Korea
Prabowo Curi Waktu dengan Zidane di Davos, Bahas Mimpi Besar Sepakbola Indonesia
Tito Karnavian Desak Relokasi dan Reboisasi Usai Longsor Pasirlangu