Logical Fallacy MBG
✍🏻 Arsyad Syahrial
Entah siapa yang menyusun naskah pidato itu, tapi bagi siapapun yang pernah mengenyam bangku kuliah ekonomi, isinya terasa sangat menggelikan. Sungguh.
Mari kita lihat di mana letak kekeliruannya saat membandingkan MBG dengan McDonald's.
1. Sumber Dana dan Risiko yang Berbeda
Coba pikirkan McDonald's. Itu perusahaan swasta. Ekspansinya digerakkan oleh modal sendiri, pinjaman bank, atau dana investor yang mengharapkan return. Setiap gerai baru adalah taruhan finansial. Kalau gagal menarik pembeli, ya tutup. Mereka bangkrut.
MBG? Itu program publik. Dananya berasal dari APBN, alias uang pajak kita semua. Skala dan kecepatannya tidak ditentukan oleh "permintaan pasar", melainkan oleh keputusan politik dan seberapa besar anggaran yang disediakan negara. Di sini tidak perlu mencari "pembeli", yang ada adalah "penerima" yang sudah ditentukan dari awal.
Dan inilah masalah besarnya: akuntabilitas. McDonald's kalau kualitasnya jeblok, langsung dihukum pasar. Sementara program pemerintah yang inefisien? Seringkali tetap hidup, bertahan karena alasan-alasan di luar efisiensi.
2. Mekanisme Pertumbuhan: Pasar vs Negara
Membandingkan kecepatan ekspansi McD yang butuh puluhan tahun dengan MBG yang hanya setahun? Itu mengabaikan begitu banyak hal. McD harus membangun segalanya dari nol: infrastruktur, rantai pasok, merek. Mereka harus bertarung di ratusan pasar dengan regulasi berbeda dan menghadapi kompetitor langsung setiap hari.
MBG, di sisi lain, bersifat monopoli. Tidak ada pesaing. Tidak ada gesekan pasar. Program ini bergerak dengan instruksi dan kucuran dana fiskal yang sangat masif. Anggaran ratusan triliun rupiah seperti yang diambil dari pos pendidikan bisa dialokasikan hanya dengan satu ketukan palu. Ini mobilisasi sumber daya, bukan pertumbuhan organik yang kompetitif.
3. Parameter Keberhasilan dan Biaya Peluang
McDonald's diukur dari efisiensi dan margin keuntungan. Sedangkan keberhasilan MBG seringkali hanya dilihat dari angka cakupan: berapa banyak porsi yang berhasil dibagikan. Tidak ada tekanan untuk mencari untung di sini.
Tapi ada satu hal krusial yang kerap terlupakan: opportunity cost atau biaya peluang.
Setiap rupiah dari pajak yang dialirkan deras ke MBG, adalah rupiah yang sebenarnya bisa digunakan untuk hal lain. Misalnya, memperbaiki gedung sekolah yang hampir roboh atau meningkatkan kesejahteraan guru. Membandingkan kecepatan "membakar" anggaran negara dengan akumulasi laba sebuah korporasi? Itu seperti mengabaikan prinsip dasar alokasi sumber daya yang efisien.
MBG mungkin bisa menambah jumlah porsi dengan cepat. Namun, tantangan sebenarnya justru ada di belakang layar: mengelola rantai pasok yang ramping dan menjaga kualitasnya tetap terkendali.
Intinya, tiga poin di atas sebenarnya sangat mendasar. Tapi coba ingat, pidato ini disampaikan di Davos di depan World Economic Forum. Hadirinnya adalah ekonom, peneliti, dan praktisi dari institusi-institusi terbaik dunia.
Di hadapan audiens yang sangat menjunjung tinggi prinsip teknokrasi dan stabilitas fiskal, retorika "lebih cepat dari McD" ini terdengar tidak tepat. Mirip gaya startup yang gegabah membakar uang investor. Bedanya, kali ini yang 'dibakar' adalah uang rakyat.
Jadi, bisa dibayangkan kan, ekspresi mereka yang mendengarnya?
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu