Kritik itu selalu muncul, tajam dan menggelitik: apakah negara ini hanya fokus memberi makan, bukan mencerdaskan? Kalau kita tilik pemikiran Tan Malaka, khususnya lewat konsep Madilog-nya, persoalannya ternyata jauh lebih dalam. Ini bukan cuma urusan teknis program sosial, lho. Ini soal politik pengetahuan, dan tentu saja, kekuasaan.
Bagi Tan Malaka, berpikir harus berangkat dari realitas material yang nyata. Memang, kebijakan "memberi makan" menyentuh kebutuhan paling dasar rakyat. Tapi seringkali, semuanya berhenti di situ. Menurutnya, cara seperti ini cuma solusi sementara yang tidak menyentuh akar masalah. Struktur yang menyebabkan kemiskinan tetap tak tergoyahkan. Ibaratnya, rakyat cuma dikasih ikan. Mereka tak diajari memancing, apalagi diajak bertanya: kenapa, sih, ikan di sungai kita susah sekali didapat?
Pernyataannya yang terkenal cukup menyentak:
"Mereka ingin kita patuh, bukan cerdas. Karena yang cerdas sulit ditipu."
Artikel Terkait
Banjir Setinggi Lutut Lumpuhkan Arus Daan Mogot, Kendaraan Terpaksa Putar Balik
Pasca Banjir, Inisiatif Sedekah 1 Juta Al-Quran Pulihkan Suara Mengaji di Sumatera
Esther Aprilita, Pramugari 26 Tahun, Teridentifikasi dalam Tragedi Pangkep
Pidato Hangat Prabowo di Davos: Kekuasaan untuk Senyum Si Lemah