Kritik itu selalu muncul, tajam dan menggelitik: apakah negara ini hanya fokus memberi makan, bukan mencerdaskan? Kalau kita tilik pemikiran Tan Malaka, khususnya lewat konsep Madilog-nya, persoalannya ternyata jauh lebih dalam. Ini bukan cuma urusan teknis program sosial, lho. Ini soal politik pengetahuan, dan tentu saja, kekuasaan.
Bagi Tan Malaka, berpikir harus berangkat dari realitas material yang nyata. Memang, kebijakan "memberi makan" menyentuh kebutuhan paling dasar rakyat. Tapi seringkali, semuanya berhenti di situ. Menurutnya, cara seperti ini cuma solusi sementara yang tidak menyentuh akar masalah. Struktur yang menyebabkan kemiskinan tetap tak tergoyahkan. Ibaratnya, rakyat cuma dikasih ikan. Mereka tak diajari memancing, apalagi diajak bertanya: kenapa, sih, ikan di sungai kita susah sekali didapat?
Pernyataannya yang terkenal cukup menyentak:
"Mereka ingin kita patuh, bukan cerdas. Karena yang cerdas sulit ditipu."
Kalimat itu bukan tanpa dasar. Ia menggambarkan kecurigaan mendalam bahwa kekuasaan punya kepentingan untuk menjaga kepatuhan massa. Bantuan pangan, jika tidak dibarengi dengan pendidikan yang membebaskan, bisa berubah jadi alat yang berbahaya. Fungsinya malah melanggengkan ketergantungan dan mematikan kesadaran kritis rakyat.
Padahal, coba lihat konstitusi kita. Semangat "mencerdaskan kehidupan bangsa" sebenarnya seirama dengan filsafat Madilog. Kecerdasan di sini bukan sekadar bisa baca tulis. Maknanya lebih luas: kemampuan berpikir logis, mendialektikakan setiap masalah, dan memahami akar materialnya. Tanpa bekal itu, rakyat cuma akan jadi objek yang pasif. Mereka akan sulit membedakan mana bantuan yang tulus, mana kebijakan yang sebenarnya memperdaya.
Jadi, pilihan antara sekadar memberi makan dan sungguh-sungguh mencerdaskan itu sebenarnya cerminan dari pilihan politik yang lebih besar. Apa negara ini ingin memelihara rakyat yang penurut, atau justru membangun bangsa yang mandiri dan kritis? Bangsa yang mampu memperjuangkan keadilan dengan kesadaran penuh.
Bagi Tan Malaka, kemerdekaan sejati berawal dari pikiran yang merdeka. Negara yang benar-benar menghargai rakyatnya harus berani mengambil jalan yang lebih berisiko: mengedepankan pendidikan yang membebaskan. Hanya dengan kecerdasan kolektif itulah bangsa ini bisa benar-benar berdiri tegak, sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Artikel Terkait
Arsenal Kembali ke Puncak Klasemen Usai Kalahkan Newcastle 1-0 Berkat Gol Cepat Eze
Tim SAR Makassar Cari Perempuan 51 Tahun yang Tersesat di Hutan Palopo
Barcelona Kukuhkan Puncak Klasemen Usai Taklukkan Getafe 2-0
Wamen Pertanian Dorong Investasi Peternakan Sapi Perah dan Pedaging di Wonosobo untuk Tekan Impor Susu