Upaya itu membuahkan hasil. Hingga pertengahan Januari 2026, sekitar 97% sekolah di tiga provinsi terdampak dilaporkan sudah siap memulai pembelajaran semester genap. Tentu saja, proses belajarnya masih harus menyesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Mu’ti sendiri turun langsung ke lokasi, seperti ke SMA Negeri 4 Kejuruan Muda di Aceh Tamiang, untuk memberi semangat.
“Saya sempat masuk ke kelas. Ibu guru sudah mulai memberikan pelajaran dan melakukan dialog dengan murid-murid untuk mereka bisa semangat, bagian dari layanan psikolog diberikan oleh para guru,”
katanya saat meninjau hari pertama sekolah.
Angka yang Bicara
Semua kerja keras ini tercermin dalam peningkatan beberapa indikator kinerja strategis. Partisipasi sekolah untuk usia 7-18 tahun, kualitas lingkungan belajar PAUD, hingga serapan kerja lulusan vokasi menunjukkan tren yang menggembirakan. Indeks kebahasaan dan internasionalisasi Bahasa Indonesia juga naik, begitu pula dengan proyeksi Indeks Reformasi Birokrasi yang diharapkan mencapai angka tinggi.
Capaian-capaian ini tak hanya sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bukti nyata komitmen untuk pendidikan yang inklusif dan berkualitas, bahkan ketika dihantam bencana. Apresiasi pun datang dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati.
“Ini menunjukkan upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat undang-undang itu semakin meningkat di tahun 2025, dan semoga akan meningkat lagi di tahun 2026,”
tuturnya dalam suatu rapat kerja. Harapannya, momentum baik ini bisa terus dijaga dan ditingkatkan ke depannya.
Artikel Terkait
Menteri Dito Usai Diperiksa KPK, Kasus Kuota Haji Kian Panas
Delapan Belas Jembatan Bailey di Aceh Sudah Beroperasi Penuh
Petani Madiun Divonis Percobaan Usai Memelihara Landak Jawa
Di Balik Seragam Loreng: Sentuhan Manusiawi TNI di Tengah Puing Bencana Sumatra