Sepatu padel itu sering banget dikira sepatu olahraga biasa. Bisa dipakai di mana aja, gitu. Makanya, banyak yang penasaran, apa iya sepatu ini cocok buat dipakai jalan-jalan ke mall atau sekadar ke warung?
Wajar sih pertanyaan itu muncul. Secara tampilan, sepatu padel emang mirip banget sama sepatu tenis atau sepatu training yang biasa kita lihat. Tapi jangan salah, di balik desain yang keliatan biasa itu, ada fungsi teknis yang sangat spesifik. Sangat khusus, malah.
Kalau sampai salah pakai, dampaknya nggak main-main. Bisa-bisa performa main kamu jadi kacau, bahkan kesehatan kaki juga bisa terganggu. Jadi, penting banget buat ngerti batasannya.
Lalu, apa jawabannya?
Jawabannya cukup tegas: sebaiknya jangan. Sepatu padel nggak dirancang buat permukaan di luar lapangan. Aspal panas, trotoar kasar, atau paving block semua itu adalah musuh buat sepatu ini.
Alasannya sederhana: solnya. Sol sepatu padel didesain khusus untuk mencengkeram permukaan lapangan padel, yaitu rumput sintetis yang biasanya ditaburi pasir halus. Coba bayangkan sol itu digesek-gesekkan ke aspal atau beton yang keras. Pasti bakal cepat aus, kan? Nah, kalau solnya sudah tipis, daya cengkram dan bantalannya bakal berkurang drastis. Akibatnya, saat dipakai main lagi, sepatu jadi licin dan nggak nyaman.
Kenapa sih nggak cocok buat dipakai sehari-hari?
Meski keliatannya serba bisa, sepatu padel punya tujuan tunggal: mendukung permainan di lapangan padel. Titik. Begitu keluar dari konteks itu, masalah mulai bermunculan.
Pertama, soal keausan sol. Pola tapaknya yang unik itu cepat sekali terkikis di permukaan keras. Grip yang kamu andalkan buat nge-break atau berlari lateral bisa hilang dalam waktu singkat. Risiko terpeleset? Jadi jauh lebih besar.
Kedua, bantalan dan penyangganya bakal cepat rusak. Sistem bantalan di sepatu padel diatur untuk menahan beban gerakan lateral dan sprint pendek yang khas di lapangan. Kalau dipakai buat jalan di permukaan yang nggak rata dan keras, material peredam kejutnya bekerja terlalu berat. Ujung-ujungnya, kenyamanan berkurang. Nyeri di kaki atau lutut? Bisa aja terjadi. Bahkan risiko cedera overuse juga meningkat.
Artikel Terkait
Sindikat Oplosan Gas Elpiji di Palembang Digerebek, Untung Hampir Rp4 Juta Sehari
Hoaks Video Viral Gym Ambarawa, Polisi Ungkap Modus Pencabulan di Balik Heboh Medsos
Jakarta Terapkan Sekolah Daring, Antisipasi Cuaca Ekstrem hingga Akhir Januari
Prabowo Buka Suara di Davos: Dari Menolak Undangan hingga Pamer Prestasi Setahun Memimpin