Mengapa Anies Baswedan mendirikan Partai Gerakan Rakyat? Pertanyaan ini terus bergulir di kalangan pendukungnya. Reaksinya beragam. Ada yang mendukung penuh, dengan alasan Anies butuh kendaraan politik sendiri. Tujuannya agar tak lagi bergantung pada keputusan elite partai lain, seperti yang mungkin dirasakan dalam Pilgub DKI 2024. Di sisi lain, lewat partai ini pula Anies bisa membuktikan kapasitasnya bukan cuma sebagai intelektual, tapi juga manajer yang handal.
Namun begitu, kekhawatiran juga muncul. Banyak yang takut partai baru ini justru memecah suara pendukung Anies yang selama ini tersebar di berbagai partai sebut saja Nasdem, PKS, PKB, dan lainnya. Para aktivis di partai-partai mapan itu biasanya enggan pindah haluan. Meski begitu, dukungan mereka untuk Anies di Pilpres 2029 mungkin saja tetap mengalir.
Bagi Anies sendiri, keuntungan terbesar dari PGR jelas soal kemandirian. Ia tak mau lagi sepenuhnya digantungkan pada kemauan politik elite partai lama. Dengan partai sendiri, arah pencalonan, pasangan, hingga agenda politik bisa ia kendalikan lebih leluasa.
Pengamat politik Ujang Komaruddin dari UAI melihat ini dari sudut yang berbeda. Menurutnya, kehadiran Anies memberi nilai jual instan.
Jadi, PGR bisa berfungsi sebagai rumah politik bagi relawan dan simpatisan Anies yang selama ini tercerai-berai. Transformasi dari gerakan menjadi partai memberikan struktur yang lebih permanen: ada kepengurusan daerah, program kaderisasi, dan tentu saja alat untuk mengonsolidasi suara. Selain itu, partai ini memungkinkan Anies membangun narasi politik jangka panjang. Ia tak lagi sekadar tokoh yang ‘dipinjam’ partai lain, melainkan figur sentral yang membentuk partainya sendiri.
Tapi ini semua bukan tanpa risiko. PGR adalah pertaruhan besar. Gagal menembus parlemen bisa jadi bumerang yang memalukan. Anies bisa dicap sebagai tokoh yang tak mampu membesarkan partainya sendiri.
Tantangan elektoralnya pun berat. Ambang batas parlemen memaksa partai baru bekerja keras mati-matian. Prof. Asrinaldi, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Andalas, punya pandangan keras soal ini.
Ia menambahkan, popularitas tokoh tak otomatis mengalir jadi suara partai. Butuh mesin yang rapi hingga ke tingkat desa. Intinya, Anies mungkin populer, tapi PGR belum tentu elektoral.
Masalah lain yang nyata adalah soal dana. Membangun partai dari nol itu mahal. Butuh biaya besar untuk kantor daerah, logistik, saksi, kampanye, hingga operasional harian. Ujang Komaruddin menegaskan, tantangan finansial sering jadi titik lemah partai baru.
Kalau PGR gagal membangun sumber pendanaan yang kuat dan transparan, risikonya cuma satu: jadi partai papan bawah, atau bahkan hilang sebelum 2029.
Lalu, apa yang harus dilakukan Anies? Apakah ia harus sepenuhnya bertumpu pada PGR, atau tetap menjaga hubungan baik dengan partai-partai pendukung lamanya? Realitanya, Anies masih punya peluang melobi partai mapan seperti Nasdem dan PKS. Dua partai ini punya rekam jejak mendukungnya.
Artikel Terkait
Jalan DI Pandjaitan Lumpuh, Pengendara Terjebak Banjir dan Macet Mencekam
Wali Kota Yogyakarta Siapkan Wamira untuk Kendalikan Harga Sembako di Kampung
Panglima TNI Serius Tinjau Kesiapan Prajurit dan Dukung Ketahanan Pangan di Garut
Izin 28 Perusahaan Dicabut, Tapi Operasi di Lapangan Masih Berjalan