Presiden Prabowo Perintahkan Pembangunan 100 Gigawatt Energi Terbarukan

- Rabu, 11 Maret 2026 | 19:16 WIB
Presiden Prabowo Perintahkan Pembangunan 100 Gigawatt Energi Terbarukan

Jakarta – Di tengah badai krisis global yang melanda, Presiden Prabowo Subianto justru melihat secercah peluang. Momentum itu disebutnya sebagai 'berkah terselubung' yang mendorong Indonesia berlari lebih cepat menuju kemandirian. Pernyataan itu disampaikan dalam peringatan satu tahun Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rabu (11/3/2026) lalu.

Menurut Presiden, situasi sulit saat ini memaksa pemerintah untuk tak lagi setengah-setengah. Semua rencana baik, terutama di sektor pangan dan energi, harus segera dieksekusi. "Kita akan keluar dari krisis ini semakin kuat," tegasnya.

"Krisis ini menurut saya adalah suatu blessing in disguise. Memang penuh kesulitan, memang penuh tantangan, tapi memaksa kita mempercepat niat-niat baik,"

ujar Prabowo di hadapan para pengelola Danantara.

Lalu, bagaimana caranya? Presiden langsung menyasar sektor energi. Dengan nada tegas, ia memerintahkan akselerasi pembangunan pembangkit listrik dari energi terbarukan dengan target yang ambisius: 100 gigawatt.

"Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kita akan membangun 100 gigawatt, itu sudah perintah saya, itu sudah keputusan saya,"

tegasnya. Rencana listrikifikasi masif ini, terutama dari tenaga surya, disebutnya sebagai bukti efektivitas kepemimpinan Indonesia di mata dunia.

Di sisi lain, Prabowo tak lupa mengingatkan soal pengawasan. Sambil memberikan apresiasi pada kinerja Danantara yang diakui investor, ia menitipkan pesan keras. Pengelolaan kekayaan negara, baginya, adalah urusan 'darah bangsa' yang harus dijaga ketat.

"Kita harus mengawasi, karena ini adalah darah bangsa Indonesia. Tanpa kalau darah ini bocor terus, bangsa kita dalam keadaan susah,"

imbuhnya.

Ia menutup pidatonya dengan nada optimis, meski berhati-hati. Masa depan Indonesia, kata Prabowo, tetap cerah asal krisis dihadapi dengan gagah dan dana negara dikelola dengan penuh kejujuran.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar