Jebakan Starlink dan Runtuhnya Skema Agen Asing di Iran

- Kamis, 22 Januari 2026 | 06:40 WIB
Jebakan Starlink dan Runtuhnya Skema Agen Asing di Iran

Oleh: Ismail Amin
WNI yang saat ini tinggal di Iran

Kesalahan Fatal Para Agen Asing di Iran

Rencana mereka, sejatinya, tampak sempurna.

Demonstrasi pecah karena persoalan ekonomi. Momen itulah yang ditunggu. Para agen asing menyusup ke tengah massa, lalu mulai meneriakkan yel-yel anti-pemerintah. Setiap teriakan itu direkam dengan rapi oleh tim khusus. Videonya langsung dikirim ke para "penadah" influencer bayaran dengan jutaan pengikut untuk dibingkai jadi satu narasi: ini adalah gerakan rakyat Iran melawan rezim, bukan unjuk rasa biasa. Bahkan ada desas-desus yang sengaja disebar, bahwa Ayatullah Khamenei bersiap kabur ke Moskow jika keadaan makin runyam.

Media-media internasional pun mengangkat cerita yang sama. Seolah semua ini murni dan spontan. Padahal, dari awal sudah ada persengkokolan. Inflasi yang melonjak dan melemahnya mata uang Rial, itu adalah dampak nyata dari tekanan sanksi AS dan Eropa. Semua sudah dihitung.

Tapi ada satu hal yang luput dari kalkulasi mereka: kewaspadaan rakyat Iran sendiri.

Masyarakat dengan cepat menarik diri. Dalam hitungan hari, jumlah massa di jalan menyusut drastis. Aktivitas kembali normal. Sungguh, di hari-hari ketika media luar memberitakan Iran lumpuh dan tiga puluh provinsi tutup, saya justru berkelana antar kota Qom, Teheran, Kerman. Lalu lintas lancar. Tidak ada tanda-tanda shutdown.

Di sisi lain, para agen itu masih nekat melanjutkan aksi. Mereka pindah ke jalan-jalan sepi. Bak sampah dibakar, plang-papan pemerintah dirusak, sambil terus meneriakkan slogan. Di setiap titik, jumlah mereka tak pernah sampai seratus orang. Mereka pun produksi video-video baru penuh emosi, menampilkan wajah-wajah tampan dan cantik yang diklaim sebagai "korban kebrutalan aparat". Padahal, beberapa foto itu bahkan wajah artis Turki. Karena kekurangan bukti, mereka terpaksa memakai foto rekayasa AI atau cuplikan peristiwa lama.

Watak asli mereka lambat laun terbuka. Aparat keamanan diserang, warga biasa diancam agar ikut. Unjuk rasa berubah jadi intimidasi.

Puncaknya Kamis malam itu, 8 Januari. Reza Pahlavi menyerukan aksi besar-besaran.

"Turun ke jalan! Sekarang saatnya!"

Namun malam itu justru membuktikan kegagalan mereka. Hanya kelompok mereka sendiri yang muncul. Mayoritas warga memilih di rumah, hidup berjalan seperti biasa.

Frustrasi, mereka jadi semakin brutal. Apalagi ketika internet diputus total malam itu. Telepon mati, SMS macet. Koordinasi kacau balau. Mereka menyerang aparat, merusak fasilitas umum, membakar mobil, bahkan menjadikan masjid sebagai sasaran.

Di sinilah letak kesalahan fatal mereka.

Aparat keamanan sama sekali tidak meladeni provokasi. Sekeras apa pun dipancing untuk menembak, mereka menahan diri. Mereka tahu, satu peluru saja akan jadi amunisi propaganda di media luar. Pilihan itu berisiko, bahkan mematikan. Beberapa aparat yang berusaha meredam dengan tangan kosong justru tewas ditembak, ditikam, dikeroyok. Semua kekerasan itu terekam jelas oleh CCTV dan kemudian disiarkan televisi nasional.

Simpati publik pun berbalik. Sekuat apa pun media luar berteriak tentang korban jiwa ribuan, rakyat Iran tidak percaya. Mereka lebih percaya pada tayangan kebrutalan para perusuh yang mereka saksikan sendiri di TV.

Parahnya lagi, tidak ada satu pun bukti video yang menunjukkan aparat melakukan kekerasan bersenjata. Justru yang beredar luas adalah rekaman aksi vandalisme mereka: masjid dibakar, mobil warga dihancurkan, rumah sakit dan pemadam kebakaran diserang. Rakyat menyaksikan semua ini secara langsung.

Hari-hari berikutnya, jalanan ramai lagi. Tapi kali ini, rakyat turun untuk mengutuk para perusuh. Mereka bersikeras bahwa kelompok perusuh itu bukan bagian dari rakyat Iran. Mereka adalah penjahat yang harus dihukum berat. Kemarahan publik nyata terasa.

Para agen asing mulai panik. Internet putus, koordinasi dengan intelijen luar terputus. Bahkan perangkat Starlink yang mereka andalkan berhasil dilumpuhkan oleh sistem keamanan Iran.

Lalu, pada Sabtu malam tanggal 9 Januari, jebakan akhirnya dipasang. Sinyal Starlink sengaja "dihidupkan" sebentar. Dengan internet nasional masih mati, setiap perangkat yang menyala jadi mudah dilacak. Aparat bergerak cepat. Penyergapan dilakukan seketika. Mereka ditangkap satu per satu.

Operasi itu lagi-lagi disiarkan di TV. Publik melihat barang bukti yang disita: senjata, alat mata-mata, perangkat komunikasi canggih, dan unit Starlink yang jadi bumerang.

Fakta-fakta ini semakin mengukuhkan bahwa kerusuhan ini adalah rekayasa. Bukan gerakan akar rumput. Rusaknya fasilitas umum justru memperburuk keadaan ekonomi ironi yang tak terelakkan.

Puncaknya pada Senin, 12 Januari. Jutaan orang membanjiri jalan. Mereka menyatakan dukungan pada pemerintah, berterima kasih pada aparat, dan setia pada kepemimpinan Ayatullah Khamenei. Amerika Serikat dan Israel dikutuk secara terbuka dalam pawai raksasa itu.

Propaganda musuh runtuh seketika. Usai pawai akbar itu, kerusuhan benar-benar berhenti.

Aparat yang semula ingin dicap sebagai algojo, justru dikenang sebagai pahlawan. Mereka yang gugur dimakamkan dengan iringan lautan manusia. Sementara para perusuh yang digelandang, dipandang sebagai pengkhianat yang pantas dihukum berat.

Tak ada yang mereka dapat, selain kehinaan.

Dan dari jauh, aktor utama di balik semua ini cuma bisa geram. Donald Trump, sambil menahan amarah, berkomentar pedas.

"Cukup sudah. Iran perlu pemimpin baru. Saya akan hapus Iran dari peta."

Begitulah kisahnya.

Ismail Amin, dari Iran

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini