Simpati publik pun berbalik. Sekuat apa pun media luar berteriak tentang korban jiwa ribuan, rakyat Iran tidak percaya. Mereka lebih percaya pada tayangan kebrutalan para perusuh yang mereka saksikan sendiri di TV.
Parahnya lagi, tidak ada satu pun bukti video yang menunjukkan aparat melakukan kekerasan bersenjata. Justru yang beredar luas adalah rekaman aksi vandalisme mereka: masjid dibakar, mobil warga dihancurkan, rumah sakit dan pemadam kebakaran diserang. Rakyat menyaksikan semua ini secara langsung.
Hari-hari berikutnya, jalanan ramai lagi. Tapi kali ini, rakyat turun untuk mengutuk para perusuh. Mereka bersikeras bahwa kelompok perusuh itu bukan bagian dari rakyat Iran. Mereka adalah penjahat yang harus dihukum berat. Kemarahan publik nyata terasa.
Para agen asing mulai panik. Internet putus, koordinasi dengan intelijen luar terputus. Bahkan perangkat Starlink yang mereka andalkan berhasil dilumpuhkan oleh sistem keamanan Iran.
Lalu, pada Sabtu malam tanggal 9 Januari, jebakan akhirnya dipasang. Sinyal Starlink sengaja "dihidupkan" sebentar. Dengan internet nasional masih mati, setiap perangkat yang menyala jadi mudah dilacak. Aparat bergerak cepat. Penyergapan dilakukan seketika. Mereka ditangkap satu per satu.
Operasi itu lagi-lagi disiarkan di TV. Publik melihat barang bukti yang disita: senjata, alat mata-mata, perangkat komunikasi canggih, dan unit Starlink yang jadi bumerang.
Fakta-fakta ini semakin mengukuhkan bahwa kerusuhan ini adalah rekayasa. Bukan gerakan akar rumput. Rusaknya fasilitas umum justru memperburuk keadaan ekonomi ironi yang tak terelakkan.
Puncaknya pada Senin, 12 Januari. Jutaan orang membanjiri jalan. Mereka menyatakan dukungan pada pemerintah, berterima kasih pada aparat, dan setia pada kepemimpinan Ayatullah Khamenei. Amerika Serikat dan Israel dikutuk secara terbuka dalam pawai raksasa itu.
Propaganda musuh runtuh seketika. Usai pawai akbar itu, kerusuhan benar-benar berhenti.
Aparat yang semula ingin dicap sebagai algojo, justru dikenang sebagai pahlawan. Mereka yang gugur dimakamkan dengan iringan lautan manusia. Sementara para perusuh yang digelandang, dipandang sebagai pengkhianat yang pantas dihukum berat.
Tak ada yang mereka dapat, selain kehinaan.
Dan dari jauh, aktor utama di balik semua ini cuma bisa geram. Donald Trump, sambil menahan amarah, berkomentar pedas.
Begitulah kisahnya.
Ismail Amin, dari Iran
Artikel Terkait
Gangguan Tiang Listrik Lumpuhkan Layanan KRL Tanah Abang-Rangkasbitung
Daan Mogot Tergenang, Lalu Lintas Jakarta Barat Tersendat
Forjim dan Pusat Kebudayaan Turki Jajaki Kolaborasi, Beasiswa untuk Jurnalis Dibuka
Kapolri Bentuk Satuan Khusus Tangani Perdagangan Orang dan Kekerasan Terhadap Perempuan-Anak