Tarbiyah dan Pengorbanan: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan dalam Mendidik Jiwa

- Rabu, 21 Januari 2026 | 22:25 WIB
Tarbiyah dan Pengorbanan: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan dalam Mendidik Jiwa

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrahim: 4).

Kalau kita renungkan, proses pendidikan dalam Islam atau yang sering kita dengar sebagai tarbiyah itu sebenarnya bukan sekadar transfer ilmu. Lebih dari itu. Ia adalah sebuah perjalanan panjang untuk membentuk kepribadian, mengasah potensi, agar seseorang bisa tumbuh menjadi manusia yang utuh: beriman kokoh, berilmu luas, dan tentu saja, berakhlak mulia.

Nah, dalam perjalanan itu, ada satu elemen yang seringkali jadi penentu. Elemen yang berat tapi tak terelakkan: pengorbanan. Ya, kesediaan untuk melepas sesuatu yang kita punya, entah itu waktu, kenyamanan, atau lebih dari itu, demi sebuah tujuan yang lebih besar dan mulia.

Makna di Balik Kata "Tumbuh"

Secara bahasa, tarbiyah itu artinya "tumbuh" atau "berkembang". Bayangkan seperti seorang petani merawat benih. Butuh kesabaran, nutrisi yang tepat, dan lingkungan yang mendukung. Begitu pula dengan pendidikan ruhani dan intelektual seorang muslim. Tujuannya jelas: mengembangkan seluruh potensi yang Allah berikan, agar bisa menjadi insan yang bermanfaat, kuat mental, dan tangguh menghadapi gelombang kehidupan.

Esensi Sebuah Pengorbanan

Lalu, apa itu pengorbanan dalam konteks ini? Ini bukan tentang dramatisasi. Ini tentang pilihan sadar. Mengalihkan sumber daya yang kita cintai harta, waktu, tenaga, bahkan pikiran dari kepentingan diri sendiri menuju jalan yang diridhai-Nya. Ia adalah bukti nyata dari keimanan, sebuah langkah konkret yang menunjukkan mana yang lebih kita prioritaskan.

Dua Sisi Mata Uang yang Sama

Di sinilah titik temunya. Tarbiyah dan pengorbanan itu ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisah. Mustahil ada proses pembentukan kepribadian yang mendalam tanpa ada unsur pengorbanan di dalamnya. Coba lihat. Dari sisi pendidik, butuh pengorbanan waktu, tenaga, dan kesabaran yang luar biasa. Dari sisi yang dididik, butuh pengorbanan kemalasan, ego, dan kebiasaan lama yang nyaman.

Pada akhirnya, pengorbanan itulah yang menjadi kunci. Ia adalah bahan bakar yang menggerakkan seluruh proses tarbiyah. Tanpanya, tujuan untuk membentuk pribadi muslim yang tangguh dan berakhlak mulia hanya akan jadi wacana. Maka, sudah siapkah kita membayar harganya?

Imam Nur Suharno, Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar