Lalu, apa itu pengorbanan dalam konteks ini? Ini bukan tentang dramatisasi. Ini tentang pilihan sadar. Mengalihkan sumber daya yang kita cintai harta, waktu, tenaga, bahkan pikiran dari kepentingan diri sendiri menuju jalan yang diridhai-Nya. Ia adalah bukti nyata dari keimanan, sebuah langkah konkret yang menunjukkan mana yang lebih kita prioritaskan.
Dua Sisi Mata Uang yang Sama
Di sinilah titik temunya. Tarbiyah dan pengorbanan itu ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisah. Mustahil ada proses pembentukan kepribadian yang mendalam tanpa ada unsur pengorbanan di dalamnya. Coba lihat. Dari sisi pendidik, butuh pengorbanan waktu, tenaga, dan kesabaran yang luar biasa. Dari sisi yang dididik, butuh pengorbanan kemalasan, ego, dan kebiasaan lama yang nyaman.
Pada akhirnya, pengorbanan itulah yang menjadi kunci. Ia adalah bahan bakar yang menggerakkan seluruh proses tarbiyah. Tanpanya, tujuan untuk membentuk pribadi muslim yang tangguh dan berakhlak mulia hanya akan jadi wacana. Maka, sudah siapkah kita membayar harganya?
Imam Nur Suharno, Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
Artikel Terkait
Sjafrie Sjamsoeddin Tegaskan Kesiapan Indonesia Hadapi Perang Berlarut
Kotak Kayu Mirip Pocong di Kulon Progo Ternyata Cuma Berisi Tanah
Pemerintah Cabut Izin Perkebunan Rp14,5 Triliun di Atas Tanah Milik TNI
Tiga Polisi Bengkalis Diciduk Saat Pesta Narkoba di Hotel