Trump dan Ambisi Greenland: Dunia Menyaksikan Kembalinya Hukum Rimba?

- Rabu, 21 Januari 2026 | 16:20 WIB
Trump dan Ambisi Greenland: Dunia Menyaksikan Kembalinya Hukum Rimba?

Rubio berusaha meredam kekhawatiran. Katanya, Trump cuma ingin membeli Greenland, bukan menyerangnya. Ketertarikan itu sudah ada sejak masa jabatan pertama, sebagai bagian dari strategi menghadapi China dan Rusia di kawasan Arktik.

Tapi satu hal sulit dibantah: Trump percaya bahwa kekuatan adalah kebenaran.

“Dia adalah figur yang paham transaksi dan kekuasaan yang brutal, kekuasaan ala mafia,” ujar Zanny Minton Beddoes, pemimpin redaksi The Economist. “Dia tidak melihat nilai dalam aliansi. Dia tidak peduli pada ‘Amerika’ sebagai sebuah gagasan atau seperangkat nilai.”

Trump sendiri tak menutupinya. “NATO sama sekali tidak ditakuti Rusia atau China,” katanya kepada New York Times. “Kamilah yang ditakuti.”

Padahal, kalau soal keamanan, AS sudah punya pasukan di Greenland. Berdasarkan perjanjian 1951, mereka bisa menambah kehadiran militernya kapan saja. Tapi Trump merumuskannya dengan lebih sederhana: “Saya perlu memilikinya.”

“I like to win,” katanya berulang kali. Dan semakin banyak bukti bahwa inilah inti dari segala kebijakannya.

Di kancah internasional, upaya untuk ‘menormalkan’ Trump terus berjalan. Edward Luce dari Financial Times menyebutnya "sane-washing". Para pemimpin dunia datang membawa pujian, hadiah, dan diplomasi personal, berharap bisa melunakkan sikapnya. Kadang berhasil. Seringnya tidak.

Memang, Trump pernah mencetak terobosan. Seperti gencatan senjata sementara di Gaza dan pembebasan sandera Israel, hasil dari tekanan diplomatiknya yang keras. Tapi itu bukanlah awal dari perdamaian abadi.

Jika tahun lalu kebijakannya dibungkus narasi "manifest destiny", tahun ini ia seperti menghidupkan kembali Doktrin Monroe versi baru. Sebagian pengamat sampai menjulukinya “Doktrin Donroe”. Intinya, Amerika berhak bertindak sesuka hati, baik di ‘halaman belakangnya’ sendiri maupun di luar, demi kepentingan nasional.

Respons Eropa masih terpecah. Macron mengancam dengan ‘bazoka’ dagang Uni Eropa. Italia bicara soal kesalahpahaman. Sementara Inggris, di bawah Perdana Menteri Keir Starmer, berusaha menyeimbangkan pembelaan atas kedaulatan Greenland dengan menjaga hubungan personal yang sudah dijalinnya dengan Trump.

Dan Trump? Dengan santai, ia mempublikasikan pesan-pesan pribadi dari para pemimpin dunia yang berusaha merayunya.

Di seberang perbatasan, Kanada pun waspada. Ancaman aneksasi kembali mencuat ketika Trump mengunggah peta belahan bumi barat yang dipenuhi warna merah-putih-biru Amerika.

“Kita harus menerima dunia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita inginkan,” kata Perdana Menteri Kanada Mark Carney.

Di Davos, Carney menyimpulkan situasi dengan kalimat yang mengena: “Kita sedang berada di tengah sebuah retakan, bukan transisi.”

Lalu, apa yang bisa menghentikan Trump?

Ketika ditanya, jawabnya singkat. “Moral saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya hal yang bisa menghentikan saya.”

Kini, para sekutu berusaha membujuk, merayu, bahkan menekan agar dia berubah pikiran. Tapi kali ini, tidak ada jaminan usaha mereka akan berhasil.


Halaman:

Komentar