Emil Salim Soroti Pemerintahan Saat Ini: Terlalu Banyak Politik, Minim Solusi Teknis

- Rabu, 21 Januari 2026 | 15:50 WIB
Emil Salim Soroti Pemerintahan Saat Ini: Terlalu Banyak Politik, Minim Solusi Teknis

Dari sudut ruang tamu rumahnya yang sederhana, Prof. Emil Salim, sang ekonom senior dan mantan menteri, memandang jauh ke belakang. Usianya hampir seabad, namun ingatannya masih tajam. Dalam sebuah percakapan baru-baru ini, ia membandingkan cara kerja pemerintahan sekarang dengan era Orde Baru. Menurutnya, ada perbedaan mendasar yang cukup mencolok.

“Pak Harto itu menganggap soal politik adalah urusannya sebagai presiden. Yang diminta dari kami adalah technical advice, bukan political advice. Kami bukan politisi,”

begitu tutur Emil Salim, mengingat masa ketika ia menjadi bagian dari kabinet. Saat itu, pendekatan yang diutamakan lebih bersifat logis dan teknis. Bukan kepentingan politik jangka pendek yang mendominasi.

Ia menggambarkan sosok Presiden Soeharto sebagai seorang militer yang sistematis. Punya kesadaran jelas tentang apa yang ia kuasai dan apa yang tidak. Karena itu, ketika menghadapi masalah berat seperti inflasi atau defisit anggaran, yang dicari adalah solusi rasional. Bukan basa-basi.

Lalu, bagaimana caranya agar solusi teknis dari para ahli itu bisa jalan? Rahasianya ada pada kerja sama lintas sektor yang dibangun dengan cara unik.

Emil, yang menjabat menteri selama seperempat abad, menceritakan kolaborasi tiga pilar saat itu: kelompok ekonom dengan motor seperti Wijoyo Nitisastro, pihak militer, dan unsur sosial. Namun begitu, kunci keberhasilannya justru terletak pada dialog-dialog informal. Bukan rapat resmi berprotokol ketat.

“Malam-malam hari setelah makan malam, kami ngobrol. Di sanalah teman-teman para jenderal seperti Jenderal Sutopo Yuwono, Ali Murtopo, Jenderal Yusuf memahami bahasa pembangunan seperti irigasi, nilai tukar, inflasi yang bukan bahasa ABRI,”

kenangnya. Para ekonom yang juga mengajar di Seskoad Bandung memanfaatkan momen setelah kuliah untuk berdiskusi santai dengan para perwira. Dari obrolan ringan itulah pemahaman bersama terbentuk.

Sayangnya, nuansa seperti itu sepertinya sulit ditemui hari ini. Emil melihat pemerintahan sekarang justru kebalikannya: terlalu dikuasai oleh pertimbangan politik. Banyak politisi yang muncul bukan karena perjuangan ideologis, tapi lebih karena peluang dan modal finansial semata.

“Dorongannya bukan dari ide, gagasan, cita-cita untuk membangun kesejahteraan rakyat. Tapi mungkin lebih banyak bagaimana membayar kembali ongkos pemilihan,”

kritiknya pedas. Ia juga menyoroti hal yang menurutnya sangat mengkhawatirkan: tidak adanya proses pembentukan kader kepemimpinan yang sistematis. “Tanah air ini kekurangan pemimpin. Kita mempunyai ketua, tapi belum tentu dia pemimpin,” tegasnya.

Lantas, bagaimana dengan isu dinasti politik yang ramai diperbincangkan? Emil justru punya pandangan yang sedikit berbeda.

Ia menilai wajar saja jika seorang pemimpin berusaha mendidik pengganti yang sejalan dengan cita-citanya. “Jangan salahkan pemimpin. Kalau saudara menjadi pemimpin, saudara mendidik pengganti saudara, mendidik kader yang menggantikan cita-cita saudara,” ujarnya.

Masalahnya, menurut dia, adalah ketika upaya membentuk pemimpin itu hanya terpusat di satu kelompok. “Mendidik pemimpin bukan hanya tugas partai politik, tapi juga LSM, pengusaha, universitas. Tanah air ini milik kita semua,” tandasnya.

Emil Salim, yang terakhir kali menjadi penasihat Presiden SBY, mengaku sudah tak lagi punya kontak dengan lingkaran kekuasaan. Pesannya sederhana namun dalam: jangan cuma menyalahkan pemerintah. Setiap orang, katanya, harus melakukan apa yang bisa dilakukan dengan kemampuan yang ia miliki.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar