Peci Hitam Prabowo dan Jas Abu-Abu Lammy: Harmoni Gaya di Awal Diplomasi

- Rabu, 21 Januari 2026 | 14:24 WIB
Peci Hitam Prabowo dan Jas Abu-Abu Lammy: Harmoni Gaya di Awal Diplomasi

Di tengah kesibukan kunjungan kenegaraannya, ada satu momen di London yang menarik perhatian. Saat tiba di Lancaster House, Selasa lalu, Presiden Prabowo Subianto tampil dengan gaya yang khas: peci hitam berpadu dengan jas abu-abu. Penampilannya itu langsung menjadi sorotan.

Menariknya, Wakil Perdana Menteri Inggris, David Lammy, yang menyambutnya juga mengenakan jas dengan warna yang mirip. Sebuah keselarasan yang kebetulan, namun menciptakan kesan pertama yang harmonis di antara kedua pemimpin itu.

Bagi banyak yang melihat, peci hitam itu bukan sekadar aksesori. Ia adalah pernyataan. Sebuah penegasan identitas Indonesia yang dibawa ke panggung diplomasi internasional. Simbol yang sederhana, tapi punya makna yang dalam.

Prabowo tidak datang sendirian. Dia didampingi oleh sejumlah nama penting dari kabinetnya. Ada Airlangga Hartarto, Rosan Roeslani, juga Brian Yuliarto dan Sakti Wahyu Trenggono. Mereka hadir bersama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya serta Dubes RI untuk Inggris, Desra Percaya. Kehadiran rombongan ini menunjukkan betapa seriusnya agenda kunjungan ini.

Agenda utamanya sendiri adalah sebuah forum bisnis dan investasi, yang kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan siang yang dihost oleh David Lammy sendiri. Dari sini, pesannya jelas: Indonesia benar-benar membuka diri dan berkomitmen untuk memperkuat kerja sama ekonomi dengan Inggris. Kerja sama yang sifatnya strategis, tentunya.

Forum bisnisnya berjalan dengan format yang cukup standar, tapi penting. Delegasi pelaku usaha Inggris diperkenalkan lebih dulu, difasilitasi oleh British Chamber of Commerce. Giliran delegasi Indonesia pun tampil, dengan KADIN memimpin perkenalan itu. Suasana terasa fokus dan penuh tujuan.

Sebagai penutup rangkaian di Lancaster House yang megah itu, Prabowo dan David Lammy mengadakan sesi foto bersama. Mereka berdiri di Grand Staircase yang ikonik, dikelilingi oleh para delegasi dan undangan. Momen itu mengabadikan bukan hanya pertemuan dua pemimpin, tapi juga awal dari sebuah hubungan kerja yang diharapkan akan semakin erat.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar