Awal abad ke-21 mencatat sebuah babak yang kelam. Amerika Serikat, bersama puluhan sekutunya, menginvasi Afghanistan dan Irak. Mereka datang dengan klaim mulia dan kepercayaan diri yang meluap-luap, didukung oleh teknologi militer paling mutakhir yang pernah ada.
Dua dekade berlalu. Klaim-klaim itu kini tinggal debu. Yang tersisa adalah kegagalan yang memalukan. Koalisi negara-negara paling kuat di dunia ternyata tak sanggup menundukkan kelompok seperti Taliban.
Ini bukan cuma soal kekalahan di medan tempur. Ada lapisan-lapisan lain yang lebih dalam. Sejarah seolah berulang. Kita bisa melihat kilas balik ke Surabaya, November 1945, ketika sekutu pemenang Perang Dunia II dibuat kalang kabut oleh rakyat. Atau, lebih jauh lagi, kisah Malahayati dari Aceh yang berhasil mengalahkan pendekar Belanda dalam duel satu lawan satu.
Dari episode Afghanistan dan Irak, setidaknya muncul tiga pelajaran pahit yang mengguncang panggung dunia.
1. Mitos Teknologi yang Runtuh
Perang asimetris di Afghanistan membuktikan satu hal: drone dan jet tempur canggih bukan segalanya. Ketika berhadapan dengan kelompok lokal yang paham betul medan dan punya daya tahan ideologis kuat, semua keunggulan teknologi itu bisa jadi tak berarti. Militer profesional dari puluhan negara akhirnya kewalahan melawan aktor non-negara. Bayangkan saja, seperti menghadapi laskar atau kelompok masyarakat yang tak punya pelatihan militer formal, tapi punya semangat juang membara.
2. Hegemoni AS yang Retak
Sebagai negara adidaya, AS diharapkan jadi penjaga stabilitas global. Tapi kegagalan di Afghanistan, ditambah dengan kedustaan mereka soal senjata pemusnah massal di Irak, menghancurkan kepercayaan dunia. Legitimasi moral Washington terkikis habis. Banyak yang mulai mempertanyakan, masih pantaskah AS memimpin tatanan dunia?
3. Identitas sebagai Kekuatan
Di sini, kebangkitan yang terjadi lebih bersifat simbolik. Muncul narasi kuat bahwa iman dan ideologi bisa menjadi senjata ampuh untuk melawan imperium modern. Barat, dengan analisis materialistiknya, sering mengabaikan faktor ini. Trump agaknya menangkap gelagatnya. Pada 2017, dia memompa tema "White Nationalist Supremacy" sebagai jawaban dari dalam negeri, yang kemudian dikukuhkan dengan slogan "Make America Great Again".
Jadi, surutnya perang melawan teror tak lepas dari tiga hal tadi. Ditambah lagi, biayanya yang mencekik. Krisis finansial 2008 jadi bukti nyata: mesin perang AS bukan cuma gagal secara strategis, tapi juga membebani ekonomi global yang rapuh. Ini persis seperti yang pernah diingatkan Eisenhower tentang kompleks industri-militer-keuangan.
Era Trump: Krisis dalam Berbagai Bentuk Baru
Bayang-bayang Afghanistan masih terus menghantui, meski dalam wujud yang berbeda di era Trump. Krisisnya sekarang multidimensi.
Lihat saja perdagangan. AS kewalahan menghadapi efisiensi manufaktur global, terutama dari China. Menurut teori Immanuel Wallerstein, negara inti kapitalisme mulai kehilangan taringnya.
Lalu ada dolar. Gelombang dedolarisasi yang digaungkan BRICS dan blok non-Barat mulai menggerogoti senjata andalan Washington: weaponization of currency. Daya pukul dolar melemah.
Di bidang teknologi, monopoli inovasi sudah tidak lagi di Barat. Asia kini jadi pusat gravitasi baru, dari semikonduktor sampai AI. Kegelisahan AS terhadap Huawei dan TikTok adalah tanda nyata mereka tak lagi memegang kendali.
Di dalam negeri sendiri, masalahnya menumpuk. Sistem finansial makin liar dan spekulatif, sementara kontrak sosial dengan rakyat biasa terabaikan. Pengangguran, narkoba, krisis kesehatan mental semua ini adalah gejala imperial overstretch, ketika sebuah kekuatan besar menjangkau terlalu jauh hingga melampaui kemampuannya.
Artikel Terkait
Sutoyo Sindir Homo Eggiensis: Restorative Justice atau Pertunjukan Kekuasaan?
Hijab dan Seragam AS: Dilema WNI di Garda Nasional Amerika
Transjakarta, MRT, dan LRC Catat Rekor 461 Juta Penumpang di 2025
Desa di Balik Hutan: Pemerintah dan DPR Bahas Nasib Ribuan Kampung Tertinggal