Sabtu lalu, 17 Januari, sebuah pesawat ATR 42-500 jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan. Pesawat itu mengangkut sepuluh orang tiga di antaranya pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan, sisanya awak pesawat. Peristiwa ini langsung memicu operasi pencarian besar-besaran.
Beberapa hari setelahnya, tepatnya Selasa (20/1), Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi membeberkan kronologi kejadian. Penjelasannya disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Gedung DPR. Berikut urutan peristiwa yang dirangkum dari paparan Menhub.
Semuanya bermula pagi hari di Yogyakarta. Pukul 08.08 WIB, pesawat dengan registrasi PK THT itu bersiap lepas landas dari Bandara Adisutjipto.
Penerbangan berlanjut hingga siang. Menjelang pendaratan, sekitar pukul 12.23 WITA, Air Traffic Control (ATC) Bandara Sultan Hasanuddin mengarahkan pesawat untuk masuk ke landasan pacu 21.
Namun begitu, sesuatu yang tidak biasa terjadi. ATC mendapati pesawat menyimpang dari jalur yang ditentukan. Kontak komunikasi pun mendadak terputus saat terakhir terdeteksi, pesawat berada di wilayah Maros.
Tak lama setelah itu, Airnav dan Makassar Area Terminal Control Center (MATSC) bergerak cepat. Mereka mengkoordinasikan respon darurat dengan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, serta pemerintah daerah setempat.
Operasi pencarian baru benar-benar dimulai keesokan harinya, Minggu (18/1). Pukul 06.15 WITA, drone milik TNI AU diterbangkan untuk menyisir area perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep di sekitar Gunung Bulusaraung.
Usaha itu tak butuh waktu lama untuk membuahkan hasil. Hanya sekitar satu setengah jam kemudian, pukul 07.46 WITA, tim SAR gabungan melihat sesuatu.
Tiga menit berselang, temuan lebih besar dilaporkan.
Artikel Terkait
Gaji Sopir MBG Lebih Tinggi, Guru Honorer: Miris Hati Saya
Bupati Pati Dijerat Dua Kasus Korupsi, Nilainya Capai Miliaran Rupiah
Duel Gladiator Pelajar Berujung Patah Tulang di Sindangbarang
Makan Bergizi Gratis: Antara Harapan di Pesantren dan Bayang-bayang Keracunan