Di tengah terik Selasa (20/1) lalu, suasana di Politeknik Pengayoman Indonesia (Poltekpin) Tangerang tampak berbeda. Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) justru sibuk membagikan paket sembako dan menggelar donor darah. Ini bukan kegiatan biasa, melainkan puncak peringatan Hari Bakti Imigrasi yang ke-76. Mereka ingin menunjukkan bahwa peran imigrasi tak cuma soal cap paspor, tapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Acara itu sendiri merupakan wujud komitmen nyata. Di samping bakti sosial dan donor darah, ada satu hal yang cukup mencolok: penyerahan 20.000 bibit kelapa genjah hibrida kepada Pemerintah Kota Tangerang. Bibit-bibit itu rencananya akan dibagikan ke perangkat daerah dan warga. Bukan sekadar seremonial, langkah ini punya tujuan jangka panjang untuk ketahanan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, hadir langsung. Baginya, momen ini harus jadi pengabdian yang berdampak, bukan sekadar peringatan.
“Kegiatan bakti sosial dan donor darah ini punya fungsi strategis. Intinya, membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu. Ini juga bentuk terima kasih kami pada masyarakat sekitar,” ujar Agus.
Ia lantas menekankan soal bibit kelapa yang dibagikan.
“Penyerahan bibit ini bukan asal bagi. Kelapa itu komoditas strategis, nilai ekonominya tinggi dan manfaatnya untuk jangka panjang. Ini dukungan kami untuk pembangunan berkelanjutan dan kepedulian lingkungan,” imbuhnya.
Sebelum acara puncak di Tangerang, rupanya kegiatan serupa sudah digelar di berbagai daerah. Menurut Arif Munandar, Direktur Kerja Sama Keimigrasian dan Bina Perwakilan, rangkaian ini berjalan berkelanjutan. Di Tangerang saja, 5.000 paket sembako disalurkan. Penerimanya beragam, mulai dari warga terdampak banjir, desa binaan, hingga pondok pesantren di wilayah kerja kantor imigrasi setempat. Sementara itu, kegiatan donor darah berhasil menarik lebih dari 500 pendonor, gabungan dari pegawai Kemenimipas dan masyarakat umum.
Dengan semua kegiatan ini, harapannya jelas: kehadiran imigrasi makin dirasakan, terutama oleh kelompok rentan. Mereka ingin andil dalam pemulihan pascabencana dan mendorong program yang manfaatnya terasa lama.
Pada akhirnya, rangkaian Hari Bakti ke-76 ini adalah penegasan. Kemenimipas berkomitmen untuk tidak hanya jadi pelayan yang profesional, tapi juga humanis. Semangat “Imigrasi Berbakti” diharapkan tak berhenti di kata, tapi benar-benar membawa manfaat nyata bagi orang banyak.
Artikel Terkait
Remaja 16 Tahun Gantikan Almarhumah Ibu Berangkat Haji dari Makassar
Cemburu Buta Berujung Pembunuhan, Pelaku dan Komplotan Ditangkap di Jombang
TNI dan Warga Nduga Gotong Royong Evakuasi Jenazah di Landasan Udara Terpencil
Kuasa Hukum Ungkap Hubungan Inara Rusli dan Insanul Fahmi Kini Merenggang