Stadion Sepak Bola Didesak Jadi Mesin Ekonomi, Bukan Cuma Tempat Adu Jago

- Selasa, 20 Januari 2026 | 17:36 WIB
Stadion Sepak Bola Didesak Jadi Mesin Ekonomi, Bukan Cuma Tempat Adu Jago

Di Golden Boutique Hotel Kemayoran, Jakarta, suasana sudah cukup ramai sejak pagi. Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus membuka sebuah forum diskusi, Selasa lalu. Topiknya? Bagaimana mengelola kawasan stadion sepak bola di daerah supaya lebih profesional, aman, dan tentu saja, berkelanjutan. Yang menarik, pemberdayaan UMKM jadi salah satu poin utama yang diusung.

Bagi Wiyagus, sepak bola di Indonesia sudah jauh melampaui sekadar olahraga. Ia melihatnya sebagai sebuah fenomena sosial dan ekonomi yang punya daya tarik massif. Bayangkan saja, antusiasme masyarakat terhadap sepak bola disebutnya mencapai angka hampir 69 persen dari total penduduk. Jumlah suporter fanatiknya pun mencapai puluhan juta orang. Basis penggemar sebesar itu jelas bukan main-main.

“Besarnya basis penggemar ini menjadikan sepak bola bukan sekadar olahraga ya, tetapi juga fenomena sosial dan ekonomi yang memiliki daya ungkit besar ya,” ujar Wiyagus.

Namun begitu, di balik gempita itu tersimpan persoalan yang tak sederhana. Pemerintah pusat memang sudah membangun dan merevitalisasi setidaknya 17 stadion dalam sepuluh tahun terakhir. Tapi kenyataannya, banyak dari aset mahal itu yang pengelolaannya belum optimal. Stadion-stadion itu kerap hanya hidup saat ada pertandingan besar, lalu sepi dan tak terawat di hari-hari biasa.

Menurut Wiyagus, akar masalahnya berkelindan dengan tata kelola di daerah. Mulai dari soal penunjukan operator, pembiayaan untuk operasional dan perawatan, hingga kerja sama dengan klub atau pihak ketiga. Di sisi lain, banyak klub daerah juga masih terkendala kemampuan manajerial dan keuangan yang terbatas. Jadi, masalahnya saling berkait.


Halaman:

Komentar