Namun begitu, persamaan itu juga membuka celah. Celah untuk menetapkan pertumbuhan ekonomi riil di luar model statistik murni. Mungkin saja, secara politis.
Bayangkan, realisasi pertumbuhan riil ditarget harus capai 5 persen. Tapi kenyataannya, pertumbuhan nominal cuma 4 persen. Secara matematis, mustahil angka riilnya mencapai 5 persen.
Tapi dengan operasi statistik, "keajaiban" bisa terjadi. Pertama, biro statistik bisa menaikkan angka pertumbuhan nominal dari 4 persen jadi, misalnya, 6 persen. Lalu, deflator ditetapkan sangat rendah, sekitar 1 persen. Maka jadilah: 6% – 1% = 5%. Target pun tercapai.
Lalu, kemana perginya kelebihan produksi 6 persen yang artifisial itu? Ia tidak terserap konsumsi. Akhirnya, ia mengendap dalam kategori "diskrepansi statistik".
Nah, yang menarik, nilai diskrepansi statistik pada 2022 dan 2023 ternyata sangat besar. Mencapai sekitar Rp1.170 triliun angka yang hampir menyamai konsumsi pemerintah yang hanya Rp1.500 triliun. Besaran yang tidak normal.
Pertanyaannya, apakah ini indikasi operasi statistik? Apakah pertumbuhan produksi nominal sengaja digelembungkan (inflated) lalu "disembunyikan" dalam diskrepansi statistik?
Pembahasan kita belum selesai. Dalam tulisan berikutnya, kita akan mengupas lebih dalam soal deflator variabel kunci konversi nominal ke riil dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan analisis awal terhadap deflator, ada indikasi pertumbuhan ekonomi 2024 mungkin overstated antara 1,0 hingga 1,6 persen. Mungkinkah? Kita akan lihat.
20 Januari 2026
- 000 -
Artikel Terkait
Durian Asia Tenggara: Dari Musang King hingga Petruk, Ragam Raja Buah yang Mendunia
BULOG Pastikan Stok Beras dan Minyak Goreng Aman hingga Akhir Tahun
Desa Adat Pallawa: Menyaksikan Transformasi dari Tradisi Kelam ke Warisan Budaya Toraja
PD Parkir Makassar Tegaskan Tarif Resmi Tak Naik Meski Ada Video Viral Jukir Minta Rp10 Ribu