Koreksi Sejarah: Nabi Muhammad Lahir di Hijaz, Bukan Arab Saudi

- Selasa, 20 Januari 2026 | 16:00 WIB
Koreksi Sejarah: Nabi Muhammad Lahir di Hijaz, Bukan Arab Saudi

✍🏻 Ustadz Muhammad Abduh Negara

Baru-baru ini, saya menemukan sebuah tulisan yang intinya kurang lebih begini: "Ada hikmahnya Allah memilih Arab Saudi sebagai tempat lahir Nabi terakhir." Nah, pernyataan semacam ini rasanya perlu diluruskan.

Soalnya, Arab Saudi itu sendiri adalah nama sebuah negara. Sebuah entitas politik yang baru berdiri sekitar seratus tahun lalu. Jadi, menyebut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di Arab Saudi itu jelas keliru. Kronologinya tidak nyambung.

Nabi kita lahir dan dibesarkan di Makkah, kemudian hijrah dan wafat di Madinah. Dua kota suci ini, bersama wilayah sekitarnya, secara historis dikenal dengan sebutan Hijaz. Menyebut Hijaz, Makkah, atau Madinah jauh lebih tepat. Selain akurat secara sejarah, ini juga menghindarkan kita dari bias politik dan pemahaman keagamaan yang sempit.

Pikirkan saja: di era Nabi, masa Khulafaur Rasyidin, bahkan ratusan tahun setelahnya, nama "Arab Saudi" sama sekali belum muncul. Kalau kita keliru menautkan dua hal ini, bisa-bisa pemahaman kita tentang sejarah jadi bias. Jauh melenceng.

Di sisi lain, corak keagamaan di Hijaz sendiri sebenarnya tidak statis. Bisa berubah-ubah. Hari ini, yang dominan dan didukung pemerintah setidaknya hingga saat ini adalah paham Salafi. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah "Wahhabi".

Tapi jangan salah, dalam perjalanan panjang sejarah, bukan hanya paham itu yang berkembang di sana.

Faktanya, untuk kurun waktu yang cukup lama, justru paham Sufi-lah yang lebih mendominasi kawasan Hijaz. Bahkan, antara aliran Sufi dan Salafi ini punya sejarah konflik yang panjang, baik secara pemikiran maupun politik.

Memang, ada hikmah besar di balik kelahiran Nabi di Makkah dan hijrahnya ke Madinah. Namun begitu, kita harus melihatnya dalam konteks zaman beliau. Bukan berdasarkan kondisi Hijaz masa kini yang didominasi satu paham, atau masa Kesultanan Utsmani dulu yang lebih condong ke Sufi.

Kesimpulannya, kita tidak bisa serta-merta membenarkan paham Salafi atau Sufi hanya karena Nabi berasal dari Hijaz. Itu namanya membaca sejarah dengan kacamata kuda. Pemahaman seperti itu justru mengaburkan pelajaran berharga yang seharusnya kita ambil.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar