Hutang Budi Prabowo dan Parasit di Tubuh Kekuasaan

- Selasa, 20 Januari 2026 | 12:20 WIB
Hutang Budi Prabowo dan Parasit di Tubuh Kekuasaan

Awalnya saya kira operasi KPK akan menyasar pejabat dari PDIP. Logikanya, karena mereka menang banyak di pilkada dan berada di luar koalisi, mereka jadi sasaran empuk untuk dibangun narasi korupsi. Tapi nyatanya, yang tertangkap justru dari Gerindra. Ini janggal.

Apalagi setelah revisi UU KPK, lembaga itu tidak lagi independen. Dia berada di bawah eksekutif, pimpinannya dipilih presiden. KPK sudah menjadi alat kekuasaan.

Lalu, kenapa menangkap kepala daerah dari partai presiden sendiri? Dan kenapa saat presiden sedang keluar negeri?

Pertanyaan besarnya: siapa yang sebenarnya mengendalikan KPK sekarang?

Kalau dirunut, pimpinan KPK saat ini dipilih oleh presiden sebelumnya, bukan oleh Prabowo. Dalih kekosongan jabatan dipakai untuk mengangkat pimpinan baru, padahal seharusnya presiden yang masa jabatannya hampir habis tidak perlu melakukannya. Bisa saja masa jabatan diperpanjang sementara menunggu presiden baru. Tapi aturan tak tertulis itu dilanggar.

Jadi, kalau ada kasus yang digarap KPK, kita bisa bertanya: permainan apa lagi ini?

Termasuk dalam hal ini penetapan Mantan Menteri Agama Gus Yaqut sebagai tersangka. Kita tahu betapa loyalnya Gus Yaqut pada Jokowi di Pilpres 2024.

Tapi soal loyalitas, dalam kamus Jokowi tampaknya itu konsep yang cair. Semua hubungan adalah transaksi kepentingan ekonomi dan kekuasaan. PDIP dan Megawati yang mengantarnya dua periode saja bisa dengan mudah ditelikung, apalagi yang lain.

Presiden kita sekarang, Prabowo, tampaknya sangat menghargai dukungan utama dari sang mantan. Setiap kebijakannya akan dibiarkan berjalan, sampai mungkin ia sendiri kerepotan. Partai-partai koalisi warisan Jokowi akan tetap jadi pendukung setia, di permukaan.

Tapi begitu kebijakan itu berbenturan dengan penolakan publik yang keras, mereka akan balik badan. Mereka akan bilang, "Kami partai koalisi permanen di bawah Prabowo dan Gerindra."

Mereka akan dukung mutlak setiap inisiatif: revisi UU TNI, pembentukan batalyon baru, perbaikan program MBG lewat Perpres, Koperasi Desa Merah Putih. Mereka dukung, sambil mungkin sudah menduga hasilnya akan belepotan, centang-perenang, dan menimbulkan ketidakpastian.

Mereka akan paling cepat menyelamatkan diri ketika krisis datang. Karena pada dasarnya, mereka cuma parasit yang numpang hidup di tubuh kekuasaan. Jika kekuasaan itu mulai rapuh dan berpotensi runtuh, mereka akan ramai-ramai melompat keluar. Atau, bersatu dengan "Pak Mantan", menghancurkannya dari dalam.

Hati-hati, Pak Prabowo dan Gerindra. Permainannya semakin rumit.

(Markijok)

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar