VENEZUELA: POLA YANG BERULANG
Oleh Dina Sulaeman
Begitu sebuah negeri berani mengambil alih sumber daya alamnya sendiri, dan langkah itu merugikan kepentingan perusahaan Amerika, sebuah pola klasik pun muncul. Tekanan politik, gempuran propaganda, sanksi ekonomi yang mencekik, dan akhirnya, upaya untuk menggulingkan rezim yang berkuasa.
Nah, Venezuela saat ini hanyalah bab terbaru dari cerita lama yang itu-itu saja. Isunya bukan soal narkotika atau terorisme seperti yang digembar-gemborkan AS. Trump sendiri pernah blak-blakan,
Atau dalam terjemahan bebas: hak minyak mereka diambil, perusahaan mereka diusir, dan mereka ingin merebutnya kembali. Sederhana, bukan?
Venezuela, dengan cadangan minyak terbesar di dunia, menjadi sasaran karena AS merasa punya hak istimewa atas kekayaan alam di sana dan di mana pun. Polanya sendiri sudah bisa ditebak, terjadi berulang kali di berbagai belahan dunia.
Ambil contoh Iran tahun 1953. Saat PM Mohammad Mossadegh berani menasionalisasi industri minyak, CIA dengan cepat merancang kudeta. Rezim pro-Barat lalu naik menggantikannya.
Lalu ada Chile 1973. Salvador Allende mengambil alih tambang tembaga yang dikuasai perusahaan AS. Apa yang terjadi? Kudeta berdarah. Allende tewas, digantikan rezim Pinochet yang didukung AS dan dikenal sangat kejam.
Artikel Terkait
Nadiem Makarim Bantah Keras: Tak Terima Sepeser Pun! di Sidang Korupsi Laptop
Nadiem Tepis Tuduhan Perkaya Diri Rp809 Miliar di Sidang Chromebook
Pramono Anung Curiga Ada Tangan Ketiga di Balik Tawuran Manggarai
SMK Negeri 7 Medan Bersinar: Ruang Kelas Baru dan Smartboard Suntik Semangat Belajar Siswa