VENEZUELA: POLA YANG BERULANG
Oleh Dina Sulaeman
Begitu sebuah negeri berani mengambil alih sumber daya alamnya sendiri, dan langkah itu merugikan kepentingan perusahaan Amerika, sebuah pola klasik pun muncul. Tekanan politik, gempuran propaganda, sanksi ekonomi yang mencekik, dan akhirnya, upaya untuk menggulingkan rezim yang berkuasa.
Nah, Venezuela saat ini hanyalah bab terbaru dari cerita lama yang itu-itu saja. Isunya bukan soal narkotika atau terorisme seperti yang digembar-gemborkan AS. Trump sendiri pernah blak-blakan,
“They took our oil rights. We had a lot of oil there. They threw our companies out. And we want it back.”
Atau dalam terjemahan bebas: hak minyak mereka diambil, perusahaan mereka diusir, dan mereka ingin merebutnya kembali. Sederhana, bukan?
Venezuela, dengan cadangan minyak terbesar di dunia, menjadi sasaran karena AS merasa punya hak istimewa atas kekayaan alam di sana dan di mana pun. Polanya sendiri sudah bisa ditebak, terjadi berulang kali di berbagai belahan dunia.
Ambil contoh Iran tahun 1953. Saat PM Mohammad Mossadegh berani menasionalisasi industri minyak, CIA dengan cepat merancang kudeta. Rezim pro-Barat lalu naik menggantikannya.
Lalu ada Chile 1973. Salvador Allende mengambil alih tambang tembaga yang dikuasai perusahaan AS. Apa yang terjadi? Kudeta berdarah. Allende tewas, digantikan rezim Pinochet yang didukung AS dan dikenal sangat kejam.
Jangan lupa Patrice Lumumba di Kongo tahun 1961. Ia dibunuh hanya karena punya mimpi sederhana: rakyatnya harus berdaulat atas mineral mereka sendiri.
Atau Libya 2011. Muammar Qaddafi punya rencana membuat mata uang Afrika bersama dan mengontrol minyaknya. Hasilnya? NATO yang didukung AS membombardir negara termakmur di Afrika itu hingga hancur.
Daftarnya masih panjang. Guatemala 1954, Afghanistan, Irak, Suriah dalam berbagai periode, Mesir 2013, dan banyak lagi. Bahkan Indonesia tak luput. Soekarno dulu mendorong kedaulatan ekonomi dan menasionalisasi aset asing. Akibatnya? AS disebut-sebut terlibat dalam operasi perubahan rezim 1965 di balik layar.
Menurut beberapa catatan, AS terlibat langsung atau tidak dalam lebih dari 70 upaya penggulingan pemerintahan sejak 1945. Angkanya bisa diperdebatkan, tapi polanya jelas sekali. Kalau pemimpinnya menurut dan bersahabat, dia akan aman. Kalau melawan, bersiaplah menghadapi segala cara untuk menjatuhkannya.
Kini, lihatlah Palestina. Israel, dengan dukungan penuh AS, melakukan kekejian dan pembantaian massal di Gaza. Ini sebenarnya bukan tentang Hamas atau keamanan Israel semata. Ini soal kontrol wilayah.
Ingat, ada ladang gas yang sangat kaya di lepas pantai Gaza. Ingat juga pernyataan Trump yang ingin menjadikan Gaza seperti “Riviera di Timur Tengah”, sambil mendorong warga Palestina keluar dari tanah air mereka.
Jadi, setiap kali Amerika Serikat berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia, coba tanyakan ini: ada sumber daya alam apa di sana? Siapa yang menguasainya? Dan yang paling penting, siapa yang diuntungkan?
Artikel Terkait
Mahfud MD Soroti Aparat Penegak Hukum sebagai Akar Masalah Utama
Menko Hukum Yusril Kecam Penganiayaan Remaja oleh Oknum Brimob di Tual
Pemuda 19 Tahun Tewas Tabrak Truk Mogok di Jalan AP Pettarani Makassar
Menko Hukum Yusril Kecam Keras Penganiayaan Pelajar Maluku oleh Oknum Brimob