JAKARTA Chairil Gibran Ramadhan, atau yang biasa disapa CGR, kembali merilis karya terbarunya. Buku puisi berjudul Wapen van Holland ini adalah yang kelima dalam seri Setangkle Puisi Sejarah & Budaya ~ Betawi, Batavia, Jakarta. Menariknya, langkah CGR kali ini mendapat sorotan khusus dari Cecep Syamsul Hari.
Tokoh sastra itu, dalam endorsement-nya, menuliskan pandangan yang cukup dalam.
Cecep melanjutkan, seorang sastrawan sejatinya harus berada dalam pusaran historisitas bangsanya. “Di situlah ia diharapkan bisa menjadi konstitusi semesta, menarik benang merah antara masa silam, kini, dan nanti. Hanya yang berani masuk ke ranah itulah yang mampu melakukan pembaruan. Dan sepertinya, CGR sedang memasuki ranah itu,” tulisnya.
Sebenarnya, eksplorasi CGR atas tanah kelahirannya sudah dimulai jauh sebelum puisi-puisinya terbit. Ia sudah mengeksplorasi budaya dan sejarah Betawi lewat cerpen, menggunakan semua ejaan yang pernah berlaku di Indonesia, termasuk ragam dialek. Baca saja kumpulan cerpen perdananya, Sebelas Colen di Malam Lebaran terbit 2008. Kita bukan cuma diajak menikmati suasana masa lalu yang risetnya ketat lapangan, pustaka, wawancara tapi juga dibawa membayangkan zaman dulu lewat pilihan ejaan yang ia pakai.
Ini yang membedakannya dari para penulis Betawi pendahulu. Mereka tak pernah mengeksplorasi ragam ejaan dan bahasa, kecuali karyanya memang ditulis di tahun-tahun ejaan itu berlaku. CGR juga beda dalam mengolah cerita. Gaya realis ia pakai, tapi surealis juga. Sesuatu yang jarang ditemui pada karya M. Balfas, SM Ardan, atau Zaidin Wahab.
Nah, puisinya sendiri bagaimana? Puisi CGR itu terang-benderang. Bukan puisi gelap apalagi gelap-gulita yang bikin pusing. Semua karyanya berpijak di bumi, hasil riset lapangan, pustaka, dan wawancara. Rencananya, semua puisi yang ditulis antara 1996-2006 selama ini ia lebih ingin dikenal sebagai cerpenis dan esais akan diterbitkan dalam 11 buku. Judul-judulnya seperti Koningin van het Oosten, Batavia Oud en Nieuw, hingga Gedong Bitjara.
Namun begitu, jalan menuju penerbitan tak selalu mulus. Tjenté Manis Hoedjan Gerimis contohnya. Buku ini rencananya terbit 11 September 2017, tapi tak kunjung jadi. Ada saran dari seorang kawan, agar proposal buku seni-budaya-sejarah diajukan ke lembaga swasta atau tokoh mapan. Mengajukan ke instansi pemerintah? Kemungkinan hasilnya kecil.
Saran itu akhirnya mangkrak. Pengalaman “buang-buang umur” sebelumnya bikin CGR dan penerbitnya, Padasan, kapok. Seperti saat mengajukan Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya (2011) atau Sejarah Jawa Barat karya Saleh Danasasmita dkk yang molor dari rencana 2014 ke 2018. Mereka sudah melanglang ke berbagai kalangan pejabat, dari bupati sampai gubernur, tapi nihil. Begitu pula dengan Pusaka Tionghoa karya Liem Thian Joe. Butuh waktu tujuh tahun, dari 2013 ke 2020, dan harus menghadap banyak tokoh Tionghoa Indonesia yang mapan, sebelum akhirnya terbit.
Persoalan dana dan kepedulian ini rupanya bukan hal baru. Mona Lohanda, sejarawan dan arsiparis FIB-UI yang juga Cina Benteng, pernah berkomentar pedas.
Memang, kerja intelektual seringkali tak seksi dibanding acara hiburan. Coba bandingkan dengan penggalangan dana untuk pemilihan pemimpin ibukota yang bisa dapat miliaran rupiah dalam sejam. Sementara pemerintah yang diharapkan punya kepedulian, seringkali lebih tertarik mendukung acara panggung yang menghabiskan anggaran besar, tapi cuma tinggalkan suara bising dan sampah. Semua ikhtiar Penerbit Padasan kerap terasa seperti membuang waktu, tenaga, dan biaya saja.
Artikel Terkait
Wali Kota Madiun Diperiksa KPK, Ratusan Juta Disita dari OTT
Prabowo dan London: Kisah Rumah Kedua yang Menjadi Diplomasi
Gaji Guru Kalah dari Tukang Cuci Piring: Prioritas Negara yang Tumpul
Depresi Usai Dipalak Miliaran, Ibu Rumah Tangga Loncat dari Kapal Feri