Setelah Perjalanan Berliku, Tjenté Manis Hoedjan Gerimis Akhirnya Menyapa Pembaca

- Selasa, 20 Januari 2026 | 06:25 WIB
Setelah Perjalanan Berliku, Tjenté Manis Hoedjan Gerimis Akhirnya Menyapa Pembaca

Nasib serupa menimpa Tjenté Manis Hoedjan Gerimis. Awalnya ada rencana kolaborasi dengan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI). Dua pertemuan di tempat yang jauh dan sulit, berakhir tanpa kejelasan. Tujuh dummy buku yang sudah diberi logo PSMTi pun jadi kenangan pahit. Kejadian terulang dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) yang konon didukung Sembilan Naga. Pertemuan penuh niat baik pada April 2025 pun lagi-lagi cuma jadi kenangan. Padahal, buku ini punya buku sandingan, Dajoeng Sampan Dibawah Boelan.

Sulit sekali ternyata berharap pada kalangan Tionghoa Indonesia dari bidang seni, budaya, politik, sampai raksasa bisnis untuk peduli pada karya intelektual yang mengangkat sejarah leluhur mereka sendiri. Apakah ini membenarkan stereotip bahwa mereka sangat bertuhan pada uang? Entahlah. Tapi faktanya, buku-buku penting seperti The Kapitan Cina of Batavia karya Mona Lohanda justru dicetak atas dukungan Ford Foundation (AS) dan KITLV (Belanda). Tak ada kontribusi berarti dari lembaga Tionghoa Indonesia sendiri untuk sang begawan sejarah asal Benteng itu.

Menurut David Kwa, Pengamat Budaya Tionghoa-Peranakan, Tjenté Manis Hoedjan Gerimis punya nilai khusus.

Kwa menambahkan, kenikmatan membacanya makin terasa berkat kosa kata, ragam bahasa, dan ejaan yang menguatkan nuansa masa lalu hasil riset lapangan dan pustaka yang keras. “Kerja-kerja seperti ini, setau saya, memang kedemenan CGR,” ujarnya. Menariknya, rentang penulisan puisi ini (1996-2016) menunjukkan bahwa tren “puisi esai” yang ramai beberapa tahun lalu, ternyata sudah jauh digarap CGR.

Pengamat sastra Eka Budianta juga memberi apresiasi.

Budianta bahkan menyoroti kebiasaan personal CGR, seperti menutup komunikasi dengan “Tabe srenta hormat!”.

Akhirnya, setelah perjalanan panjang, buku ini diluncurkan pada Jumat, 23 Januari 2026, di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki. Acara yang menampilkan CGR, Idrus F. Shahab (mantan wartawan senior Tempo), dan Nuthayla Anwar (penyair dan Wakil Rektor UIA) ini dipandu oleh M. Syakur Usman dan Muhammad Sartono.

Sejumlah tokoh hadir memberi sambutan, seperti Aba Mardjani, Diki Lukman Hakim dari PDS HB Jassin, dan Prof. Yasmine Zaki Shahab dari FISIP UI. Prof. Edi Sukardi dari UHAMKA bahkan memberi hibah 10 eksemplar buku. Sementara, panggung pembacaan puisi diisi oleh nama-nama seperti Putra Gara, Sam Mukhtar Chaniago, dan Sihar Ramses Simatupang.

Acara ini hasil kerja sama Penerbit Padasan dan PDS HB Jassin, dengan dukungan Betawi Institute, PSB UHAMKA, Forum Jurnalis Betawi, dan sejumlah komunitas lain. Tak kurang dari 25 media turut meramaikan sebagai partner.


Halaman:

Komentar