Namun yang bikin panggung makin panas adalah kehadiran Anies Baswedan. Dia datang sebagai anggota kehormatan, memberi orasi kebangsaan yang hangat. Tanpa perlu banyak kode, sambal ini dari awal sudah berlabel “Anies”. Jelas sekali arahnya.
Jadi, dalam dua hari, publik disuguhi dua “sambal” baru. Satu pedasnya filosofis, satunya lagi personal. Satu bicara kelahiran kembali bangsa, satu lagi langsung tunjuk calon.
Padahal, kalau kita lihat data resmi dari Ditjen AHU per September 2024, Indonesia sudah punya 76 partai terdaftar. Tambah dua ini, jadilah 78. Angka yang lebih cocok untuk katalog festival kuliner ketimbang peta ideologi sebuah bangsa.
Ini yang bikin ironis. Dari 76 partai yang ada, cuma 18 yang ikut Pemilu 2024. Dan dari jumlah itu, hanya delapan yang berhasil melenggang ke parlemen. Sisanya? Mereka bagai sambal di etalase warnanya menarik, namanya pedas, tapi jarang ada yang memesan.
Tapi rupanya, fakta itu tak menyurutkan semangat. Di politik Indonesia, kegagalan sepertinya bukan akhir. Ia cuma alasan untuk ganti kemasan dan stiker, lalu mulai lagi dari nol.
Dan sekarang, kita masuk 2026 dengan dua optimisme baru. Gema Bangsa sibuk membangun struktur untuk Pemilu 2029, mengaku sebagai jawaban kegelisahan rakyat. Sementara Gerakan Rakyat memilih jalur berbeda, dari gerakan sosial naik kelas, dengan target tunggal: mendorong Anies ke Istana.
Dua jalur. Dua rasa. Tapi dapurnya sama: demokrasi Indonesia. Kompornya menyala terus, meski minyaknya kadang-kadang tak pernah diganti.
Rakyat hanya bisa menyaksikan, sambil mungkin tertawa getir. Seperti penonton derby Manchester tadi, berteriak gol tapi hati tetap was-was. Sendok di tangan, sambal di piring, kepala penuh spanduk janji.
Di tengah hiruk-pikuk 78 partai ini, satu pertanyaan menggantung: kita ini sedang serius memilih masa depan bangsa, atau sekadar jadi penonton di liga sambal nasional yang sistem degradasinya tak pernah benar-benar jalan?
(Ketua Satupena Kalbar)
Artikel Terkait
Detak Hati di Lereng Bulusaraung: Saat Tim SAR Menemukan Korban Kedua di Dahan Pohon
Kiai-Kiai Cirebon Desak PBNU: Pecat Kader Tersangka Korupsi Sekarang Juga
Wali Kota Madiun Tiba di KPK Usai OTT, Diduga Terkait Fee Proyek dan CSR
Wali Kota Madiun Diamankan KPK, Tegaskan Komitmen Membangun di Depan Wartawan