Lelahnya terbayar sudah. Itulah yang dirasakan para prajurit Zeni Tempur usai sejumlah jembatan darurat di Aceh akhirnya bisa digunakan warga. Kerja bergantian 24 jam tanpa henti, di tengah medan yang berat, seketika terasa ringan begitu melihat masyarakat mulai melintas untuk kembali beraktivitas.
Komandan Batalyon Zeni Tempur 16/Dhika Anoraga, Letkol Czi Rudy Haryanto, mengaku lega. "Lega," ujarnya tegas. "Letih, yang selama ini mungkin kurang tidur dan harus terus-terusan berjibaku menyelesaikan jembatan, begitu melihat jembatan itu bermanfaat buat mereka, kami hanya bisa terdiam dan melihat sambil mengucapkan syukur."
Kata Rudy, yang muncul bukan rasa bangga, melainkan ketenangan. Ketenangan karena jerih payah mereka ternyata benar-benar meringankan beban warga.
"Bukan kebanggaan yang kami dapatkan, tapi rasa ketenangan karena melihat masyarakat bisa terbantu dengan jembatan yang dibangun. Yang sebelumnya mereka harus menuruni jurang, menyebrangi sungai, naik jurang lagi, namun dengan ada jembatan tersebut, mereka tidak perlu lagi harus turun dan naik jurang," jelasnya.
Di sisi lain, Rudy berharap masyarakat bisa bersabar. Membangun jembatan, apalagi di kondisi pascabencana, tak bisa instan. "Mudah-mudahan masyarakat bisa mengerti karena dengan segala keterbatasan yang ada, mau ditambah pun personelnya, kondisi yang ada memang membutuhkan waktu," ujarnya.
Bukan Cuma Jembatan yang Hilang
Tantangan di lapangan ternyata lebih kompleks. Menurut Rudy, masalahnya bukan sekadar jembatan yang hilang atau ambruk. Material banjir kayu, puing rumah, sampah menumpuk dan menyumbat akses. Di beberapa titik, jalan menuju jembatan malah tergerus habis oleh arus sungai.
Ia mencontohkan kondisi di Teupin Mane. Pascabanjir, lebar sungai yang semula 120 meter meluas drastis menjadi 180 meter. Alhasil, sebelum memasang jembatan, prajurit harus membersihkan area kerja terlebih dulu. Baru kemudian mereka bisa menyambung jalan yang terputus itu.
Solidaritas yang Menyentuh: Warga Turun Tangan
Di tengah segala keterbatasan, ada pemandangan yang menghangatkan. Solidaritas warga Aceh ternyata menguatkan perjuangan para prajurit. Dengan sukarela, mereka turun tangan membantu membangun jembatan darurat.
"Alhamdulillah, warga sekitar sangat antusias ikut membantu kami dalam melaksanakan pembuatan jembatan ini," cerita Letkol Rudy. "Jadi mereka ikut membantu apa yang mereka bisa laksanakan, melihat anggota kami sudah kelelahan, akhirnya ikut-ikut mengangkat jembatan ataupun lain sebagainya."
Rudy menyebut ada sekitar 492 jembatan yang terputus. Prioritas utama adalah membuka jalan nasional dan akses tercepat menuju daerah terisolasi seperti Bener Meriah dan Takengon.
"Kami bekerja siang dan malam, 24 jam kami bagi shift, supaya jembatan itu bisa segera terbangun," tambahnya. "Apalagi di sana juga, di lokasi tersebut, merupakan tempat pertemuan. Jadi ada masyarakat yang bergerak, berjalan kaki dari Takengon, berjuang dengan penuh lumpur sampai di sana, baru bisa memeluk anaknya di sana. Itu juga mengetuk hati kami."
Pemandangan yang Memantik Semangat
Apa yang memacu semangat para prajurit untuk bekerja tanpa kenal waktu? Menurut Rudy, pemandangan warga yang berjuang menyeberang dengan cara berbahaya itulah pemantiknya.
Artikel Terkait
Dua Partai Baru Menggebrak, Panggung Politik 2026 Makai Panas
Wamensos Soroti Transformasi Siswa Sekolah Rakyat: Dari Malu-malu ke Berani Tampil di Depan Presiden
Korban Wedding Organizer Tembus 277 Orang, Kerugian Sementara Rp18,4 Miliar
Malapetaka Api di Karachi: 14 Tewas, 60 Hilang, dan Reruntuhan yang Masih Menyimpan Duka