Di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin lalu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin angkat bicara soal isu yang makin mengkhawatirkan: gangguan kesehatan mental di kalangan anak dan remaja. Menurutnya, dua pemicu utama yang mencuat adalah penggunaan gawai yang berlebihan dan praktik perundungan di sekolah.
“Kalau kita lihat kan yang paling banyak tuh anxiety sama depresi,” ujar Budi usai rapat.
Ia lalu menjelaskan perbedaannya dengan bahasa yang lebih sehari-hari. “Kalau anxiety tuh kayak cemas gitu ya. Kalau depresi ya itu yang benar-benar harus [ditangani]. Beberapa perlu obat.”
Fenomena ini, lanjutnya, justru banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Pencarian penyebab pastinya memang masih terus dilakukan. Namun begitu, dari pantauan sementara, ada pola yang jelas. “Ada yang disebabkannya kebanyakan pakai gadget, ada juga di sekolahnya di-bully gitu ya,” tuturnya.
Di sisi lain, pemerintah tak hanya berfokus pada pencarian sebab. Langkah konkret yang diambil saat ini adalah memperkuat sistem skrining. Logikanya sederhana: masalah harus terdeteksi dulu sebelum diobati.
“Nah, itu sekarang sedang kita cari. Tapi yang penting buat Kemenkes sekarang kita skrining dulu aja,” tegas Budi. “Pasti nanti akan ketemu, nggak usah kaget. Kan lebih baik ketemu daripada nggak ketemu.”
Dengan skrining itu, katanya, baru terlihat betapa besarnya persoalan yang selama ini mungkin tersembunyi. “Kalau dulu kan kita nggak tahu kalau kita punya masalah itu. Sekarang kita tahu bahwa masalah kesehatan jiwa ternyata cukup banyak.”
Data dari skrining itulah yang kemudian jadi dasar pemerintah menyusun kebijakan. Mulai dari menyiapkan tata laksana penanganan yang tepat, hingga menyediakan tenaga ahli di lapangan.
“Dan dari situ, kita sudah mulai menghitung, bikin kebijakan,” jelasnya. “Ini skriningnya sudah ketahuan banyak, nah harus ada tata laksananya kan. Harus ada tindakannya.”
Menurut Budi, tindakan itu terbagi dua. Untuk kondisi yang lebih ringan seperti kecemasan, konseling jadi andalan. Sementara untuk depresi berat, intervensi obat seringkali diperlukan.
Untuk mendukung semua rencana itu, persiapan sumber daya manusia sudah digeber. “Tadi sudah dihitung, supaya mulai tahun depan kita isi tuh 10.000 Puskesmas secara bertahap ada tenaga kesehatan khusus yang bisa menangani masalah kesehatan jiwa,” paparnya.
Terakhir, ia menekankan komitmen pemerintah pada penanganan kasus-kasus berat. Menyadari tingginya angka depresi, anggaran untuk obat-obatan kesehatan jiwa telah dinaikkan secara signifikan.
“Itu anggaran untuk obat-obatannya juga sudah kita naikkan lima kali lipat,” tandas Budi. “Kita bagi ke semua Puskesmas.”
Artikel Terkait
Saksi Ungkap Permintaan Uang Rp3 Miliar dari Eks Wamenaker Noel di Sidang
Polisi Gagalkan Penjualan Ilegal 200 Tabung Elpiji Bersubsidi di Blora
Baleg DPR Gelar Rapat Final RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Polisi Tangkap Dua Pelaku Pencurian Baterai Tower di Makassar, Modusnya Menyamar Jadi Teknisi