Perlu diingat, data ini spesifik mencatat pernikahan yang tercatat di KUA, alias untuk pasangan muslim. Jadi, gambaran utuhnya mungkin sedikit berbeda.
Di sisi lain, ada cerita dari warga yang mungkin mewakili fenomena ini. Andika (28) dan Haris (25), misalnya. Keduanya mengaku belum punya rencana ke pelaminan dalam waktu dekat.
"Perlu menunggu mapan secara ekonomi, tapi ini sambil mempersiapkan," kata Andika. Alasannya klasik, tapi nyata.
Haris punya alasan serupa, meski dengan penekanan berbeda. "Masih ingin fokus pada karir terlebih dahulu," ungkapnya.
Jadi, selain data statistik yang dingin, ada pertimbangan-pertimbangan personal yang hangat di baliknya. Kesiapan finansial dan karir sepertinya masih jadi faktor penentu utama bagi banyak anak muda di Jogja dan mungkin di mana saja untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Artikel Terkait
Menteri Supratman Tegaskan: Bergabung dengan Tentara Asing, Kewarganegaraan Otomatis Hilang
Gus Ipul Dorong Seleksi Terbuka untuk Sekolah Rakyat Jelang Ajaran Baru
Lurah dan Kepala Desa Diberi Wewenang Selesaikan Kasus Pidana Ringan
Lelah Terbayar, Prajurit Zeni Saksikan Warga Aceh Kembali Melintas