Sudah tiga tahun saya mengamati dunia. Dan dinamika global belakangan ini benar-benar bikin deg-degan.
Jujur saja, saya khawatir. Gelisah. Sebagai orang yang puluhan tahun berkutat dengan isu geopolitik, keamanan internasional, dan sejarah perang, naluri saya bilang sesuatu yang buruk bisa terjadi. Bahkan sangat mungkin. Sebuah prahara besar mungkin Perang Dunia Ketiga.
Meski saya yakin kita masih bisa mencegahnya, ruang untuk bertindak itu makin sempit. Hari demi hari.
Kalau kita tilik sejarah, situasi sekarang punya banyak kemiripan dengan masa-masa jelang Perang Dunia I dan II. Lihat saja: munculnya pemimpin-pemimpin dengan mentalitas haus perang, aliansi-aliansi yang saling berhadap-hadapan, lalu perlombaan senjata dan persiapan ekonomi perang yang masif. Geopolitik global lagi panas-panasnya. Yang bikin miris, meski tanda-tanda bahaya sudah jelas terpampang, upaya serius untuk mencegah konflik besar justru tak kunjung datang. Kenapa ya?
Mungkin dunia lagi abai. Atau merasa tak berdaya. Atau, siapa tahu, memang sudah tak mampu lagi mengendalikan arus.
Saya pribadi terus berdoa. Semoga mimpi buruk perang dunia apalagi yang pakai senjata nuklir tak pernah jadi kenyataan. Banyak penelitian bilang, perang total semacam itu bakal bikin dunia hancur lebur. Korban jiwa bisa tembus 5 miliar lebih. Peradaban punah. Harapan musnah.
Tapi doa saja jelas tak cukup. Sekalipun 8,3 miliar penduduk bumi berdoa bersama, Tuhan tak akan serta-merta mengabulkan jika kita sendiri tak mau berusaha menyelamatkan dunia ini.
Artikel Terkait
Ngobrol dengan Kucing Bukan Cuma Omong Kosong, Sains Buktikan Mereka Paham Perasaan Kita
Saksi Bisu Perubahan Zaman: 40 Tahun Firman Berdiri di Perempatan Menteng
Target 76 Tahun: Menkes Canangkan Peningkatan Usia Harapan Hidup dan Kualitas Lansia
Amien Rais Mengenang Mohammad Natsir: Pemimpin yang Tak Punya Rumah dan Pesan untuk Zaman Edan