Jalan Braga di Bandung selalu ramai. Turis berfoto, anak muda nongkrong, suara riuh khas tempat wisata. Tapi di tengah keramaian itu, ada sosok yang bergerak pelan. Seorang nenek dengan tas plastik berisi tisu, langkahnya tertatih tapi pasti. Itulah Nenek Emi Suhaemi.
Usianya sudah 74 tahun. Tubuhnya mungkin renta, tapi jangan tanya soal semangat. Rasanya, semangatnya lebih besar dari kebanyakan orang yang ia temui di sepanjang trotoar Braga itu.
Menurut ceritanya, usaha jualan tisu ini dimulai setelah pandemi COVID-19 mulai mereda. Modal awalnya cuma Rp 200.000. Uang seadanya itu ia putar.
“Daripada dibuang-buang, nggak paruguh (tidak jelas), jadi Nenek jualan tisu sedikit-sedikit. Biar ada untungnya dan berkah buat Nenek,” katanya.
Dari Ujungberung, ia berangkat setiap hari. Nggak sendirian. Biasanya diantar cucunya yang sekalian narik ojol. “Cucu Nenek nyari rezeki juga, sama kayak Nenek,” tuturnya. Sampai di Braga, perjalanan barunya dimulai. Ia menyusuri jalan dari ujung ke ujung, menawarkan tisunya. Kalau capek, ya istirahat dulu. “Kalau capek mah istirahat dulu,” ucapnya ringan. Sederhana saja.
Hasilnya? Cukup untuk membeli beras dan kebutuhan pokok lain. “Ya bisa bawa ke rumah buat kebutuhan dasar, beras buat makan. Ngebantu cucu sama cicit alhamdulilah walaupun sedikit,” katanya. Bagi Nenek Emi, ini lebih baik daripada diam di rumah. “Daripada diem di rumah nggak berjalan. Jadi keluar biar gerak juga,” ujarnya. Bergerak itu justru membuatnya merasa lebih sehat.
Hidupnya ia jalani dengan prinsip sederhana. Tidak mau berutang, tidak boros. Cukup saja. Yang penting sehat dan bisa terus beraktivitas. Di sela-sela menjajakan dagangannya, ia juga tak lupa berdoa dan berdzikir.
“Inget Allah yang Maha di atas. Orang lain banyak kena musibah, banjir bandang, kebakaran. Saya mah berdoa untuk selamat di jalan dan sehat buat semua.”
Perjuangannya nggak cuma di Braga. Untuk beli stok, ia rela jalan jauh ke Pasar Caringin. Naik bus jurusan Cicaheum–Cibeureum, turun di Jamika, lalu ganti kendaraan lagi. Ongkos pulang pergi habis sekitar Rp 8.000. Di pasar itu, ia beli tisu ukuran besar. Kadang, kalau ada uang lebih, sekalian beli bumbu dapur. Bahkan, tak jarang pedagang lain kasihan dan memberinya sedikit bahan makanan.
“‘Mak ini buat di rumah,’ katanya. Banyak yang ngasih, Alhamdulillah,” ucap Nenek Emi sambil tersenyum malu.
Jadi, ia bukan cuma penjual tisu biasa. Nenek Emi itu gambaran keteguhan. Di usianya yang senja, ia menolak untuk berhenti. Justru semakin tegar. Di tengah hiruk-pikuk kota Bandung, kehadirannya seperti pengingat yang lembut tentang arti kesabaran, hidup sederhana, dan bersyukur atas hal-hal kecil yang kita punya.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Cuaca Makassar Bervariasi: Cerah Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Siang hingga Sore
Remaja 16 Tahun Gantikan Almarhumah Ibu Berangkat Haji dari Makassar
Cemburu Buta Berujung Pembunuhan, Pelaku dan Komplotan Ditangkap di Jombang
TNI dan Warga Nduga Gotong Royong Evakuasi Jenazah di Landasan Udara Terpencil