Di gedung DPR, Senin (19/1), suasana cukup ramai. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, atau yang akrab disapa Pras, memberikan tanggapannya terkait wacana Pemilu menggunakan e-Voting. Intinya, dia bilang usulan itu wajib dikaji. Tujuannya jelas: mendesain Pemilu yang lebih baik ke depannya.
"Menurut kami sebagai pemerintah wajib (mengkaji e-voting) ya," ucap Pras.
Lalu dia melanjutkan, "Kita bersama-sama mari semua mencurahkan pemikiran untuk mendesain pemilu kita itu jauh lebih baik lagi."
Pras tampaknya tak ingin buru-buru. Menurutnya, mencari mekanisme Pemilu yang paling tepat itu penting banget. Makanya, setiap opsi yang ada harus ditelaah dulu secara mendalam. Namun begitu, ada prinsip dasar yang nggak boleh dilupakan.
"Yang paling mendasar adalah bagaimana sistem pemilihan itu mencerminkan sistem yang kita yakini paling tepat untuk bangsa dan negara kita," tambahnya dengan tegas.
Dia lantas memberi catatan. Sistem di negara lain belum tentu cocok diterapkan di sini. Masing-masing negara punya konteks dan karakternya sendiri-sendiri. Jadi, membanding-bandingkan secara mentah-mentah itu kurang tepat.
Di sisi lain, Pras juga menekankan satu hal krusial. Dalam proses pengkajian ini, kepentingan publik harus jadi yang utama. Bukan kepentingan kelompok atau golongan tertentu.
"Kedua tentunya kita harus berpikir sebagai sebuah bangsa bahwa kepentingan bangsa dan negara harus diutamakan," tuturnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, "Bahwa kepentingan atau kebaikan untuk bangsa dan negara terutama juga kebaikan untuk masyarakat juga harus dipikirkan. Landasannya itu."
Nah, untuk kajian mendalam ini, Pras mengajak semua pihak berperan. Pemerintah, DPR, sampai para akademisi yang punya keahlian di bidang kepemiluan. Tapi, sekali lagi, tujuannya harus sama.
"Jadi kalau kajian, menurut kami harus. Ya siapa pun itu," ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Pras menandaskan dengan nada yang agak filosofis. "Mari kita mencari sistem yang memang betul-betul itu sesuai dengan budaya karakter bangsa kita."
Pernyataan itu sekaligus menutup pembicaraannya. Intinya, jalan masih panjang. Kajian mendalam diperlukan sebelum memutuskan apakah e-Voting akan jadi masa depan Pemilu kita atau tidak.
Artikel Terkait
Arsenal Kembali ke Puncak Klasemen Usai Kalahkan Newcastle 1-0 Berkat Gol Cepat Eze
Tim SAR Makassar Cari Perempuan 51 Tahun yang Tersesat di Hutan Palopo
Barcelona Kukuhkan Puncak Klasemen Usai Taklukkan Getafe 2-0
Wamen Pertanian Dorong Investasi Peternakan Sapi Perah dan Pedaging di Wonosobo untuk Tekan Impor Susu