"Kedua tentunya kita harus berpikir sebagai sebuah bangsa bahwa kepentingan bangsa dan negara harus diutamakan," tuturnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, "Bahwa kepentingan atau kebaikan untuk bangsa dan negara terutama juga kebaikan untuk masyarakat juga harus dipikirkan. Landasannya itu."
Nah, untuk kajian mendalam ini, Pras mengajak semua pihak berperan. Pemerintah, DPR, sampai para akademisi yang punya keahlian di bidang kepemiluan. Tapi, sekali lagi, tujuannya harus sama.
"Jadi kalau kajian, menurut kami harus. Ya siapa pun itu," ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Pras menandaskan dengan nada yang agak filosofis. "Mari kita mencari sistem yang memang betul-betul itu sesuai dengan budaya karakter bangsa kita."
Pernyataan itu sekaligus menutup pembicaraannya. Intinya, jalan masih panjang. Kajian mendalam diperlukan sebelum memutuskan apakah e-Voting akan jadi masa depan Pemilu kita atau tidak.
Artikel Terkait
Setelah Perjalanan Berliku, Tjenté Manis Hoedjan Gerimis Akhirnya Menyapa Pembaca
Bahasa Minang di Negeri Sembilan: Simbol yang Bertahan, Penutur yang Menyusut
Erdogan Bergetar: Mengapa Darah Saudara Sendiri Begitu Murah?
Anies dan Transformasi Gerakan Rakyat: Panggung Politik 2029 Mulai Digarap