Dua Anggota DPR Bernostalgia Ulang Debat Ada vs Nggak Ada dengan Canda

- Selasa, 10 Maret 2026 | 17:20 WIB
Dua Anggota DPR Bernostalgia Ulang Debat Ada vs Nggak Ada dengan Canda
Momen Nostalgia Dua Anggota DPR

Setelah Debat Sengit, Kini Saling Gurau

Dua tahun berlalu sejak Pilpres 2024. Saat itu, dua anggota DPR, Habiburokhman dan Adian Napitupulu, terlibat debat panas yang sempat jadi perbincangan. Kini, suasana sudah jauh berbeda. Mereka justru bernostalgia dengan momen itu, kali ini disertai gelak tawa.

Pertemuan mereka terjadi di Rapat Paripurna DPR RI, Senayan, Selasa lalu. Di sela-sela kesibukan, keduanya terlihat akrab. Lalu, tiba-tiba, mereka mengulang debat legendaris 'ada vs nggak ada' itu. Bedanya, kali ini semuanya diwarnai canda.

Momen itu terekam kamera dan diunggah Habiburokhman ke Instagram-nya. Beberapa rekan sejawat, termasuk Ahmad Sahroni, menyaksikan dari belakang dengan senyum-senyum.

"Jadi ada nggak nih?" tanya Habiburokhman memulai.

"Sudah, sudah kelar dong utang-piutang," sambung Adian, berusaha mengalihkan.

Tapi Habiburokhman tak mau kalah. "Ada nggak ada dulu," timpalnya, memaksa lawan bicara masuk ke 'perangkap' nostalgia.

Mereka pun kembali ke dialog klasik yang dulu begitu seru. "Ada nggak," kata Habib.

"Nggak ada," jawab Adian mantap.

Kemudian, giliran Adian yang balik bertanya, "Ada?"

"Nggak ada," balas Habiburokhman, menyelesaikan lingkaran debat mini mereka.

Adian lalu menutup dengan kalimat penengah, "Yang penting utang kelar." Kalimat itu disambut tawa rekan-rekan di sekeliling mereka. Suasana rileks dan penuh keakraban.

Ketika dikonfirmasi, Habiburokhman menjelaskan latar belakang hubungan mereka. Menurutnya, persahabatan dia dan Adian sudah terjalin lama, berawal dari sama-sama aktivis.

Sebagai Ketua Komisi III DPR RI, dia menegaskan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang sangat biasa. Persahabatan dan profesionalisme, baginya, bisa berjalan beriringan.

"Ya, itu hal yang biasa saja. Kami sama-sama aktivis 98 yang kebetulan lagi nyamar jadi anggota DPR," ujarnya dengan nada santai.

"Kami bersahabat sudah lama banget, sebenarnya kami kompak banget tapi untuk beberapa hal beda pendapat ya boleh aja kan," lanjut Habiburokhman.

Dia menambahkan, "Kami saling menghormati perjuangan masing-masing. Ini demokrasi ala aktivis."

Jadi, begitulah. Dari debat sengit yang menyita perhatian publik, kini tinggal kenangan yang dibawa dengan ringan. Sebuah potret bahwa di gedung yang kerap disorot itu, ada juga dinamika persahabatan yang bertahan melewati perbedaan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar