Klaim Bahlil Soal RDMP Balikpapan: Hemat Rp 60 Triliun dan Stop Impor BBM Dinilai Menyesatkan
Analisis | Jakarta, Januari 2026
Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di hadapan Presiden Prabowo Subianto soal manfaat kilang Balikpapan menuai kritik tajam. Saat meresmikan operasi RDMP Pertamina RU V Balikpapan awal bulan ini, Bahlil menyebut proyek itu bisa menghemat devisa negara hingga Rp 60 triliun. Tak cuma itu, ia juga memproyeksikan impor solar akan berhenti pertengahan 2026, disusul impor bensin pada paruh kedua 2027.
Bagi sejumlah pengamat, klaim itu terdengar terlalu muluk. Bahkan, lebih dari itu menyesatkan.
Yusri Usman, Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), tak sungkan menyebut pernyataan menteri itu ibarat "memberi angin sorga" kepada presiden. Menurutnya, publik berhak mendapat narasi yang lebih jernih, bukan sekadar janji yang mengambang.
"Masalahnya, sejak mandatori biosolar B30 diterapkan tahun 2018 lalu, Pertamina sebenarnya sudah berhenti mengimpor solar. Fakta ini yang seolah terlupakan,"
Yusri Usman, Direktur Eksekutif CERI
Dia melanjutkan, dengan rencana mandatori B40 dan B50, produksi solar domestik justru berpotensi kelebihan. Lantas, untuk apa lagi bicara soal menghentikan impor di tahun 2026? Persoalan sebenarnya, kata Yusri, ada di masa lalu. Impor solar di tahun 2023 terjadi lebih karena kilang Balikpapan nyaris tak beroperasi selama sepuluh bulan. Proses integrasi RDMP molor, diperparah kebakaran di CDU IV yang menyebabkan kerusakan struktural.
Ada cerita menarik di balik kerusakan itu. Konon, untuk mengganti kolom fraksinator yang miring, dibutuhkan biaya tambahan sekitar Rp 7 triliun. Angka yang tidak kecil. Alhasil, Pertamina memilih perbaikan saja. Tapi, pilihan ini mengundang tanya: mampukah kilang beroperasi dengan kapasitas penuh 100 ribu barel per hari seperti yang dijanjikan?
"Akibat insiden di CDU IV itu, kehandalan kilang RDMP Balikpapan patut dipertanyakan. Bisakah ia beroperasi maksimal? Itu pertanyaan besar yang harus dijawab manajemen Pertamina,"
Yusri juga menyoroti hal lain yang tak kalah pelik. Dia heran, bagaimana mungkin PT Kilang Pertamina International bisa mencatat kerugian fantastis, mencapai USD 2,3 miliar di 2024 dan sekitar USD 1,7 miliar setahun setelahnya. "Ini harus dijelaskan," tegasnya.
Lalu, bagaimana dengan klaim penghematan Rp 60 triliun? Yusri meragukan hitungan itu. Menurutnya, masalah mendasar industri hulu migas kita adalah defisit. Lifting minyak mentah dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi BBM diklaim mencapai 1,6 juta barel. Celah sejuta barel itulah yang masih harus ditutup dengan impor, baik berupa minyak mentah maupun BBM jadi.
Dengan kata lain, meski RDMP Balikpapan berjalan mulus dan impor BBM turun, ketergantungan pada impor minyak mentah justru bisa naik. Hemat di satu sisi, tapi boros di sisi lain.
Di sisi lain, Bahlil dalam pidatonya bersikukuh pada angka penghematan fantastis tersebut. Ia menjelaskan, peningkatan kapasitas kilang dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari berkat fasilitas CDU dan RFCC yang menjadi dasar perhitungannya. Peningkatan kapasitas produksi solar dan bensin itulah, harapannya, yang akan membebaskan Indonesia dari impor.
Menteri itu juga merinci soal optimasi produksi bensin beroktan tinggi. Menurutnya, produksi Pertalite (RON 90) bisa naik signifikan, sementara kebutuhan untuk bensin RON 92, 95, dan 98 bisa ditekan hingga 3,6 juta kiloliter per tahun.
"Ke depan, dengan penerapan E10, kita bisa hemat impor hampir 4 juta kiloliter per tahun. Pengembangan kilang selanjutnya bahkan bisa menghentikan impor untuk bensin RON 92 ke atas, dan mengurangi ketergantungan pada RON 90,"
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Jadi, di satu sisi ada optimisme resmi yang penuh angka dan target. Di sisi lain, ada keraguan dan pertanyaan kritis yang menuntut kejelasan data dan transparansi. Narasi mana yang lebih mendekati realitas? Waktu yang akan menjawabnya. Namun, satu hal yang pasti: debat publik seperti ini sehat adanya, agar janji-janji besar tak sekadar menggantung di awang-awang, tetapi benar-benar berpijak di tanah.
Artikel Terkait
Bayern Munich Balas Gol Cepat Stuttgart dengan Amukan Tiga Gol
Menantu Tewaskan Mertua dengan Golok di Lampung Selatan
Rabiot Pecah Kebuntuan, AC Milan Bungkam Verona 1-0
Mentan Ajak Wisudawan ITS Jadi Motor Inovasi Pertanian Hadapi Krisis Global