Ironi Kaum Rahayu: Menolak Budaya Gurun tapi Berbusana Mataram Islam

- Senin, 19 Januari 2026 | 12:20 WIB
Ironi Kaum Rahayu: Menolak Budaya Gurun tapi Berbusana Mataram Islam

Pengaruh Budaya Gurun: Sebuah Catatan

✍🏻 Arif Wibowo

Ada satu ironi yang cukup menggelitik. Kaum yang sering disebut ‘Rahayu’ ini gemar sekali membenturkan Islam dengan budaya Jawa. Mereka mengklaim diri sebagai pemilik sah kebudayaan lokal, menjunjung tinggi kejayaan Majapahit, dan menolak apa yang mereka sebut ‘budaya gurun’ alias Islam. Tapi, coba lihat penampilan mereka. Justru mengenakan busana Mataram Islam, seperti beskap dan blangkon. Lucu, bukan?

Di sisi lain, kaum perempuan dari kelompok ini kerap mempertentangkan kebaya dengan jilbab. Padahal, kalau mau jujur, kedua mode busana itu baik beskap maupun kebaya baru populer dan berkembang pesat justru saat masyarakat Jawa sudah memeluk Islam. Jadi, klaim ‘keaslian’ yang mereka gembar-gemborkan itu sendiri patut dipertanyakan.

Lalu, ada lagi istilah ‘kapitayan’. Konsep ini dipopulerkan oleh Kyai Agus Sunyoto, seorang kiai NU yang aktif di Lesbumi. Beliau menelusuri jejak linguistik di masyarakat untuk menggambarkan konsepsi Tuhan dalam tradisi Jawa. Nah, istilah ini kemudian diambil alih dan diklaim sebagai bentuk religi asli Jawa pra-Islam. Dan lagi-lagi, dijadikan alat untuk menyerang Islam.

Menelusuri sejarah budaya lama itu sah-sah saja. Tapi, ketika kemudian berubah jadi klaim superioritas menganggap diri paling asli dan menyebut yang lain sebagai pendatang perusak ya, itu namanya sudah kebablasan. Klaim semacam itu harus diuji kebenarannya.

Ambil contoh soal busana. Kalau kita merujuk pada relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur, gambaran masyarakat Jawa kuno abad ke-8 dan 9 Masehi ternyata sangat berbeda. Cara berpakaian mereka sederhana: hanya menutup tubuh dari pusar ke bawah. Atasan? Nyaris tidak ada.

Baik rakyat biasa maupun bangsawan, laki-laki maupun perempuan, saat itu masih telanjang dada. Perbedaannya cuma terletak pada penutup kepala dan perhiasan yang dikenakan. Relief nomor 37A menggambarkan keluarga raja dengan para hambanya. Lalu, 39A menampilkan penari kayangan. Sementara di 40A, terlihat sepasang bangsawan dengan istrinya. Semuanya memperlihatkan gaya berbusana yang sama: tanpa atasan.

Hal menarik terjadi ketika saya mencoba memvisualisasikan relief tersebut dengan bantuan AI. Hasilnya? Sang robot tidak mereproduksi gambar secara harfiah. Ia justru memodifikasinya dengan standar kesopanan masa kini dengan menambahkan kain penutup dada. Ini menunjukkan betapa norma telah berubah.

Di sinilah peran Islam dalam membentuk budaya Jawa yang baru menjadi sangat signifikan. Agama ini memperkenalkan dan menetapkan standar norma berpakaian yang lebih tertutup dalam masyarakat. Itu sebuah transformasi.

Maka, wajar saja ketika jilbab kemudian diperkenalkan, banyak dari masyarakat Jawa yang menyambutnya. Ini bukan soal arabisasi. Ini lebih merupakan proses alamiah dari sebuah masyarakat yang mayoritasnya kini memeluk Islam. Sebuah evolusi budaya, bukan pemaksaan.

Jadi, pesan saya untuk kaum ‘Rahayu’ yang sering nyinyir terhadap Islam: cobalah lebih jujur dalam menarasikan sejarah. Jangan sampai kalian justru mengonsumsi dan memakai produk dari budaya Muslim Jawa, tapi di saat yang sama menyemburkan kebencian pada Islam itu sendiri.

Kalau memang tidak paham, lebih baik diam daripada memamerkan kebodohan.

Referensi: Busana Jawa Kuna karya Inda Citrandini Noerhadi.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar