Bencana Ancam Kopi Aceh, Petani Terpukul dan Serukan Bantuan
Bencana alam yang menerjang Aceh tak cuma menyisakan duka di permukiman. Sektor perkebunan kopi rakyat, tulang punggung ekonomi di sejumlah kabupaten, juga terpukul sangat keras. Di tiga sentra produksi utama Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah sekitar 30 persen dari total 105 ribu hektare kebun kopi dilaporkan rusak. Angka itu bukan sekadar statistik, tapi realita pahit yang kini dihadapi ribuan keluarga petani.
Mohammad Saturdaya, Koordinator Presidium Forum Aksi, tak bisa menyembunyikan keprihatinannya. Ia baru saja kembali dari kunjungan lapangan ke Aceh Tengah dan Bener Meriah.
“Dari total 105 ribu hektare, sekitar 30 persen atau kurang lebih 35 ribu hektare hancur. Ini bukan angka kecil,” ujarnya, Sabtu lalu. “Dampaknya sangat luas bagi ekonomi rakyat Aceh.”
Kerusakan itu, menurutnya, adalah pukulan telak. Bayangkan saja, setiap petani bisa kehilangan pendapatan hingga Rp7 juta per bulan untuk setiap hektare kebun yang rusak. Jika satu keluarga rata-rata menggarap satu hektare, maka puluhan ribu keluarga langsung terhempas dalam kesulitan.
Di sisi lain, guncangan sudah merambat ke rantai pasokan. M. Charis, Ketua Koperasi Babburayyan, yang ikut dalam kunjungan itu, membenarkan hal tersebut.
“Pembelian produksi kopi oleh koperasi kami menurun drastis. Kondisinya sangat mengkhawatirkan,” kata Charis.
Sebelumnya, rombongan Forum Aksi yang beranggotakan sembilan organisasi masyarakat memang sudah berada di Aceh sejak pertengahan Januari. Mereka menyalurkan bantuan kemanusiaan mulai dari sembako, obat-obatan, hingga bantuan psikososial untuk anak-anak di sejumlah desa terdampak. Namun, setelah melihat langsung kondisi kebun yang porak-poranda, perhatian mereka tertuju pada ancaman jangka panjang: kelangsungan hidup perkebunan kopi rakyat.
Saturdaya pun mendesak tindakan nyata. Ia menegaskan bahwa kopi Aceh adalah komoditas strategis, bukan cuma untuk daerah tapi juga secara nasional.
“Perlu intervensi cepat dan terukur dari pemerintah pusat dan daerah. Petani kopi harus bisa bangkit lagi,” tegasnya.
Namun begitu, pemulihannya tidak akan instan. Charis memperkirakan dampak sosial-ekonominya akan berlangsung lama. Butuh kesabaran dan dukungan berkelanjutan.
“Pemulihan kebun hingga produktif lagi butuh waktu setidaknya tiga tahun. Selama masa itu, tekanan ekonomi pada petani dan keluarga akan sangat berat,” pungkasnya.
Jelas, bencana ini meninggalkan luka yang dalam. Di balik segelas kopi Aceh yang harum, kini ada cerita tentang tanah yang terluka dan petani yang berjuang untuk bertahan.
Artikel Terkait
Mobil Elf Rombongan Takziah Kecelakaan di Tuban, Satu Tewas dan Belasan Luka
PSG Vs Bayern Munich di Semifinal Liga Champions, Laga Final Dini yang Diprediksi Ketat
Tiga Sipir Lapas Blitar Diduga Jual Beli Kamar Sel Khusus hingga Rp100 Juta per Napi
Tim Uber Indonesia Kunci Juara Grup C Usai Comeback Dramatis Lawan Chinese Taipei