MURIANETWORK.COM – Udara di Keraton Surakarta Hadiningrat mendadak tebal, Minggu (18/1/2026). Momen penyerahan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan soal pengelolaan cagar budaya oleh Fadli Zon, yang semestinya formal, justru berubah jadi ricuh.
SK bernomor 8/2026 itu menunjuk KGPA Tedjowulan sebagai pelaksana pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya keraton. Dokumen resmi itu, di mata pemerintah, adalah langkah strategis. Tapi bagi sebagian keluarga keraton, keputusan itu terasa dipaksakan.
Ketegangan memuncak ketika GKR Panembahan Timoer Rumbai, putri tertua Sri Susuhunan Pakubuwana XIII, naik ke mimbar. Ia hendak menyampaikan keberatan. Suaranya baru saja terdengar, tapi tiba-tiba mikrofonnya mati. Padam.
Langsung saja, ruangan itu gempar. Teriakan protes meledak dari para undangan, Sentono, dan Abdi Dalem. Suasana yang sudah panas jadi hampir tak terkendali.
Artikel Terkait
Azwar Siregar: Dukung Prabowo, Tapi Bisa Lebih Baik Daripada Capres?
Hujan Deras Lumpuhkan Jakarta, 48 RT dan 29 Ruas Jalan Terendam
Fisika Cinta: Kisah Kikuk Mahasiswa Jenius Mengejar Hati Gadis Akuntansi
Zikir dan Istighfar: Kunci Hati yang Lembut di Tengah Gempuran Dunia