Kuda Troya Amerika Gagal, SDF Terjepit di Medan Perang Suriah

- Senin, 19 Januari 2026 | 06:20 WIB
Kuda Troya Amerika Gagal, SDF Terjepit di Medan Perang Suriah

Amerika punya keinginan terselubung terkait SDF di Suriah. Mereka ingin kelompok itu melebur ke dalam pasukan pemerintah resmi. Kenapa? Tujuannya sederhana: untuk menempatkan 'kuda troya' di jantung Suriah. Unsur-unsur SDF yang sudah terintegrasi nantinya bakal jadi aset berharga bagi CIA. Kalau situasi berubah di masa depan, orang-orang ini bisa dengan mudah digerakkan oleh Washington.

Namun begitu, niat AS itu tampaknya tak akan berjalan mulus. Jaulani, sepertinya, sudah tahu betul soal ini. Makanya dia terlihat santai saja. Pemerintah Suriah mengambil posisi sebagai pihak yang sabar; merangkul, membujuk, meski sering dikhianati oleh SDF yang dianggapnya ngelunjak. Strateginya cerdas: jangan langsung kontra AS. Lagipula, AS sendiri kemungkinan besar enggan mendukung SDF yang dianggap tak tahu diri. Cara ini terbukti efektif memutus dukungan utama musuh.

Ironisnya, penolakan keras justru datang dari dalam tubuh SDF sendiri. Menurut sejumlah akun pro-pemerintah Suriah, yang paling vokal menentang peleburan adalah kelompok yang sering disebut 'jama'ah Qandil' beserta antek-anteknya.

Qandil sendiri adalah nama sebuah gunung di perbatasan Irak-Iran. Tempat itu dikenal sebagai 'safe house' atau tempat perlindungan bagi tokoh-tokoh penting Kurdi dari PKK yang kabur dari Turki. Dari sanalah gerakan politik Kurdi di empat negara Iran, Irak, Turki, dan Suriah disusun. Geng Qandil ini menginginkan SDF berdiri sebagai negara federal. Dengan begitu, pengaruh mereka di Suriah, baik secara ekonomi maupun politik, akan tetap terjaga.

Hal seperti itu, tentu saja, ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Jaulani. Membiarkannya hanya akan memicu konflik baru nantinya, bukan cuma dengan pemerintah pusat, tapi juga dengan suku-suku non-Kurdi di wilayah itu.

Amerika sepertinya tak bisa berbuat banyak. Perancis pun cuma jadi penonton. Semua kondisi di lapangan selama setahun terakhir justru memperkuat narasi yang dibangun pemerintah Jaulani.

Ada deadline yang disepakati. Berdasarkan perjanjian antara Jaulani dan Mazloum Abdi komandan tertinggi SDF yang pro-AS batas waktu peleburan adalah 25 Desember tahun lalu.

Tapi setelah deadline lewat, yang terjadi malah sebaliknya. Milisi SDF justru menantang pemerintah. Kesabaran Damaskus pun habis. Operasi militer dimulai dari distrik Sheikh Maqsoud. Dari sana, pemerintah beralih ke Deir Hafir, lalu terus meluas ke wilayah timur.

Di sinilah keadaan jadi menarik. Bukan SDF yang jadi kuda troya Amerika. Jaulani ternyata lebih dulu menempatkan kuda troya-nya sendiri di wilayah SDF: suku-suku Arab Badui.


Halaman:

Komentar