Ali Shaath Pimpin Rekonstruksi Gaza, Tandai Fase Baru Rencana Perdamaian

- Minggu, 18 Januari 2026 | 16:40 WIB
Ali Shaath Pimpin Rekonstruksi Gaza, Tandai Fase Baru Rencana Perdamaian

Rabu lalu, para mediator internasional mengonfirmasi sebuah penunjukan penting. Dr. Ali Abdel Hamid Shaath, pakar teknik sipil Palestina yang namanya cukup dikenal, akan memimpin komite teknokratis yang mengelola administrasi Jalur Gaza. Ini bagian dari Fase Kedua rencana perdamaian Donald Trump. Bisa dibilang, langkah ini menandai pergeseran dari sekadar gencatan senjata menuju tahap yang lebih konkret: rekonstruksi dan demiliterisasi.

Shaath sendiri bukan sosok baru. Pria 67 tahun kelahiran Khan Yunis ini punya rekam jejak panjang di pelayanan publik Palestina. Latar belakang pendidikannya kuat, doktor infrastruktur dari Queen’s University Belfast, Inggris. Sebelumnya dia pernah menduduki posisi seperti Wakil Menteri Perencanaan dan Ketua Otoritas Pelabuhan Palestina. Jadi, pengalamannya tak perlu diragukan lagi.

Lalu, apa saja tugas utama yang menunggunya?

Pertama, dia akan memimpin komite berisi 15 profesional. Target mereka jelas tapi berat: memulihkan layanan publik dasar, membangun kembali infrastruktur Gaza yang hancur, dan memastikan bantuan kemanusiaan tersalur. Semua ini akan dijalankan dengan landasan Resolusi DK PBB 2803 dan 20-Point Peace Plan Donald Trump. Sebuah badan internasional bernama Board of Peace yang dipimpin Trump sendiri akan mengawasi kerja mereka.

Untuk sementara, markas komite akan berada di Kairo, Mesir. Rencananya, setelah segala persiapan matang, operasi akan dipindahkan langsung ke Gaza. Soal waktu? Shaath memperkirakan proses rekonstruksi total butuh setidaknya tujuh tahun. Waktu yang tidak sebentar, tentu saja.

Tak lama setelah penunjukannya, Shaath langsung bergerak.

Pada Minggu, 18 Januari 2026, dia mengumumkan langkah pertamanya lewat media sosial. Tindakan resmi pertamanya adalah menandatangani Pernyataan Misi NCAG, sebuah dokumen yang mendefinisikan prinsip rekonstruksi dan tata kelola Gaza selama masa transisi.


Halaman:

Komentar