Jalanan Nuuk, Minggu (18/1) lalu, tak seperti biasanya. Suasana dingin Greenland tak menyurutkan ratusan warga yang memadati jalanan kota. Mereka berkumpul, berunjuk rasa dengan satu pesan yang jelas: "Hands Off Greenland".
Demonstrasi itu berpusat di depan kantor konsulat Amerika Serikat. Udara mungkin membeku, tapi semangat mereka terasa hangat dan keras. Bendera-bendera berkibar, sementara poster-poster dengan tulisan seperti "Greenland is Not For Sale" dan "Greenland is For Greenladers" terangkat tinggi-tinggi. Suaranya lantang, penuh keyakinan.
Semua ini, tentu saja, bukan tanpa sebab. Aksi itu adalah bentuk penolakan tegas. Mereka merespon tekanan politik dan wacana pengambilalihan yang digulirkan dari seberang lautan. Rupanya, pernyataan-pernyataan politik tertentu dianggap sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan mereka. Ancaman yang tak bisa mereka diamkan begitu saja.
Menariknya, gelombang protes ini tak hanya terjadi di Nuuk. Di sisi lain, di berbagai kota besar Denmark seperti Kopenhagen, Aarhus, Aalborg, dan Odense, aksi serupa digelar hampir bersamaan. Solidaritasnya terasa kuat, seolah menyiratkan bahwa ini adalah persoalan yang menyentuh banyak hati.
Lalu, apa akar masalahnya? Greenland, pulau raksasa di lingkar Arktik yang sebagian besar tertutup es itu, belakangan memang jadi bahan pembicaraan hangat. Pemanasan global mungkin satu hal, tapi ada "panas" lain yang datang dari ambisi politik. Ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mengambil alih wilayah otonomi di bawah Denmark ini telah memicu gelombang kekhawatiran. Dan kekhawatiran itulah yang akhirnya tumpah ke jalanan.
Artikel Terkait
Menguak Peta Perang Global: Benarkah Islam Biang Keladi Konflik dan Kemiskinan?
Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis: Manuver Baru Istana di Tengah Panasnya Kasus Ijazah Jokowi
Museveni Kembali Menang, Uganda Terbelah di Bawah Bayang-Bayang Ketakutan
Anies Soroti Sawit: Hutan Bukan Cuma Fotosintesis, Petani Kecil Hanya Dapat Remah