Laut yang Luas, Nasib yang Terjepit: Mengapa Sektor Perikanan Indonesia Masih Terpuruk?

- Minggu, 18 Januari 2026 | 13:06 WIB
Laut yang Luas, Nasib yang Terjepit: Mengapa Sektor Perikanan Indonesia Masih Terpuruk?

Indonesia memang gemar berslogan tentang laut. Dari lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" hingga wacana "Poros Maritim Dunia", retorika kebesaran maritim selalu laris di panggung politik. Tapi, apa iya realitanya sehebat kata-kata itu?

Secara geografis, kita punya modal besar: garis pantai terpanjang kedua di dunia, ditambah wilayah perairan yang luas. Sayangnya, kalau kita tilik data ekonomi dan kondisi sosial lima tahun belakangan, gambaran itu langsung suram. Kontribusi sektor perikanan terhadap PDB nasional mandek di angka 2,6-2,8 persen. Yang lebih menyedihkan, wilayah-wilayah pesisir yang seharusnya makmur justru jadi kantong kemiskinan ekstrem.

Lalu, di mana letak salahnya? Apakah sektor ini cuma jadi pajangan dalam peta pembangunan, atau memang sengaja dipinggirkan?

Warisan Cara Pandang yang Keliru: Memaksakan Logika Darat ke Laut

Masalahnya bukan cuma soal anggaran atau teknologi yang kurang. Akarnya lebih dalam: cara pandang. Tanpa disadari, para pembuat kebijakan di Jakarta kerap memaksakan logika agraris ke wilayah laut. Padahal, karakter keduanya beda jauh.

Di darat, petani punya lahan tetap dengan sertifikat. Risiko bisa dikira-kira. Di laut, semuanya bergerak. Ikan adalah sumber daya yang lincah, tidak kenal batas desa atau provinsi, dan sangat tergantung cuaca. Namun, puluhan tahun lamanya, pemerintah mengelola nelayan persis seperti petani: lewat bantuan fisik. Bagi-bagi kapal dan alat tangkap, mirip dengan membagikan traktor.

Pendekatan ini gagal total karena hanya fokus di hulu. Ia mengabaikan persoalan sesungguhnya: bagaimana hasil tangkapan itu dihargai. Tanpa jaminan pasar, produksi yang melimpah malah bikin harga anjlok di tingkat nelayan. Negara rajin muncul saat bagi-bagi kapal, tapi hilang begitu ikan sudah di darat.

Misteri Tengkulak yang Abadi

Dalam setiap obrolan soal nelayan miskin, tengkulak selalu jadi biang kerok. Dia digambarkan sebagai parasit yang menghisap. Tapi, menyalahkan individu saja adalah penyederhanaan yang berbahaya.

Faktanya, tengkulak ada karena ada ruang kosong yang ditinggalkan negara dan pasar formal. Bayangkan jadi nelayan: butuh modal cepat untuk solar dan es sebelum melaut, dengan hasil yang tak pasti. Bank mana yang mau kasih pinjaman dengan syarat sederhana? Hingga 2024, porsi KUR untuk sektor kelautan masih sangat kecil, cuma 2-3% dari total. Alasannya klasik: sektor ini dianggap terlalu berisiko.

Nah, di tengah kekosongan itulah tengkulak berperan. Mereka jadi "bank berjalan" sekaligus jaring pengaman. Konsekuensinya jelas: nelayan dapat pinjaman mudah, tapi hak untuk menentukan harga jualnya lenyap. Selama negara tidak menawarkan skema pembiayaan yang sesuai ritme laut seperti bayar saat hasil panen dijual maka tengkulak akan tetap jadi "penyeleng" yang tak tergantikan.

Di Antara Target PNBP dan Mimpi Ekonomi Biru


Halaman:

Komentar