Dua Pendaki Saksikan Pesawat Menghantam Lereng Bulusaraung

- Minggu, 18 Januari 2026 | 12:24 WIB
Dua Pendaki Saksikan Pesawat Menghantam Lereng Bulusaraung

Sabtu siang itu, langit di atas Gunung Bulusaraung terlihat cerah. Dua pendaki, Reski (20) dan Muslimin (18), baru saja mencapai puncak. Mereka sedang menikmati pemandangan luas yang membentang di bawah, merasa puas atas perjalanan yang mereka lalui. Suasana tenang itu tiba-tiba berubah.

“Kami melihat ada pesawat yang terbang rendah dan menabrak lereng Gunung Bulusaraung, lalu meledak dan terbakar. Kejadiannya sekitar jam 1 siang kemarin,”

kata Reski saat dikonfirmasi pada hari Minggu. Suaranya masih terdengar tercekat saat menceritakan ulang peristiwa mengerikan yang disaksikannya langsung.

Semuanya terjadi begitu cepat. Pesawat ATR 42-500 itu tiba-tiba muncul, meluncur terlalu rendah, dan menghantam sisi lereng yang jaraknya cuma sekitar 100 meter dari tempat mereka berdiri. Mereka terpaku, tidak bisa bergerak. Rasa takut yang luar biasa menyergap, seiring dengan ledakan keras dan bola api yang menyembul dari lokasi tabrakan.

“Pesawat meledak dan ada api. Kami dapat serpihan pesawat sudah berhamburan,” ujar Reski lagi.

Dia mengaku tak sempat mengabadikan momen itu. Guncangan dan kecepatan kejadian membuat mereka hanya bisa menyaksikan, jantung berdebar kencang. Setelah ledakan mereda, yang tersisa adalah keheningan yang mencekam dan bau menyengat di udara.

Dengan sisa tenaga dan masih dibayangi ketakutan, Reski dan Muslimin memunguti beberapa serpihan pesawat yang bertebaran. Mereka pun memutuskan untuk segera turun. Pendakian yang seharusnya berakhir bahagia, berubah menjadi misi untuk menyampaikan kabar buruk.

Perjalanan turun terasa jauh lebih panjang. Akhirnya, mereka tiba di kaki gunung, tepatnya di wilayah Kecamatan Balocci. Serpihan yang mereka bawa langsung diserahkan ke petugas di posko Gunung Bulusaraung. Dari sana, bukti fisik itu kemudian dibawa lebih lanjut ke Posko Operasi SAR di Desa Tompobulu. Dua saksi mata ini pulang dengan cerita yang tak mungkin mereka lupakan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar