Peringatan serupa sebenarnya juga pernah disampaikan Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam sebuah buku, SBY mengungkap ‘lima skenario masa depan Indonesia’ yang intinya mirip ramalan Megawati. Namun, kedua tokoh itu kini seperti tenggelam ditelan bumi.
Di tengah kondisi yang kacau, rakyat sempat berharap banyak pada Prabowo. Mereka menyatakan baiat, siap membersamai tugasnya menyelamatkan Indonesia.
“Tapi kenyataannya?” lanjut Sutoyo.
Prabowo dinilainya belum memberi respons nyata dengan tindakan riil. Ia seperti presiden bayangan Jokowi, tanpa arah yang jelas. Resonansi pidatonya masih terperangkap dalam janji-janji yang mirip era sebelumnya.
Keadaan makin memburuk. Sinyal kekacauan politik dan ekonomi sulit dihindari, terutama dalam transisi dari pengaruh Amerika ke pengaruh China. Kemarahan rakyat menggumpal. Dan semua ini, menurut Sutoyo, berakar dari negara yang berjalan tanpa arah pasca pemberlakuan UUD 2002.
Faktor lain yang dikhawatirkannya adalah peran Jokowi pasca lengser.
“Jokowi telah menjelma jadi oligark. Dia bersenyawa dengan kekuatan oligarki lain untuk mempersiapkan anaknya, Gibran,” terang Sutoyo, merujuk pada suatu kesepakatan yang disebutnya terjadi pada 2024.
Skemanya, Presiden dipaksa turun setelah dua atau tiga tahun berkuasa, lalu digantikan oleh Gibran.
Jika itu terjadi, huru-hara tidak terhindarkan. Gibran dipaksakan jadi Presiden akan menjadi pemicu utama. Indonesia pecah ramalan Megawati dan SBY bisa terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan.
Wallahu'alam.
Artikel Terkait
Pernikahan Sekretaris Pribadi Prabowo Dihadiri Deretan Elite Politik
Krisis Wibawa Guru: Ketika Pendidikan Kehilangan Ruhnya
Genangan Air Surut, KRL Jakarta Kota Kembali Beroperasi
WTC Mangga Dua Terendam, Lalu Lintas Lumpuh Hingga Siang