Prabowo Kejar Ketertinggalan Pendidikan, Langkah ke Inggris Bukan Sekadar Seremonial
Rencana Presiden Prabowo Subianto terbang ke Inggris untuk bertemu dengan sejumlah kampus top dunia mendapat sorotan. Bagi banyak pengamat, langkah ini lebih dari sekadar kunjungan kenegaraan biasa. Ini adalah sinyal kuat bahwa pemerintah serius mengejar ketertinggalan Indonesia, khususnya di bidang sains dan teknologi.
Amir Hamzah, seorang pengamat intelijen dan geopolitik, melihatnya sebagai bagian dari strategi besar. "Ini bukan sekadar safari akademik," tegasnya.
Menurutnya, pesan yang ingin disampaikan jelas: Prabowo memandang pendidikan, terutama STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), sebagai instrumen kekuatan negara. Bukan urusan sosial semata.
“Dalam perspektif geopolitik modern, pendidikan telah bergeser menjadi alat kekuatan nasional,” ujar Amir Hamzah, Ahad (18/1/2026). Negara-negara maju kini tak cuma andalkan militer atau ekonomi. Kapasitas riset, inovasi, dan penguasaan ilmu pengetahuan jadi penentu utama.
Pilihan Inggris sebagai tujuan pun punya alasan kuat. Negeri itu punya ekosistem riset dan pendidikan yang diakui dunia. Kampus seperti Oxford, Cambridge, atau Imperial College London bukan cuma simbol. Mereka adalah pusat produksi pengetahuan yang dampaknya langsung terasa di industri dan peradaban global.
“Riset di sana tidak berhenti di jurnal. Tapi masuk ke pasar global,” kata Amir.
Dia menilai Prabowo membaca situasi dengan tepat. Ketertinggalan Indonesia di bidang STEM berakibat langsung pada ketergantungan teknologi, lemahnya daya saing, dan posisi tawar yang rendah di kancah internasional. Fokus pada sains adalah orientasi jangka panjang yang kritis. Di era AI, energi terbarukan, dan bioteknologi, negara yang gagal kuasai ilmu pengetahuan akan tertinggal secara struktural.
“Kalau kita cuma jadi pasar, bukan produsen teknologi, maka ketergantungan itu akan terus berlanjut. Prabowo tampaknya ingin memutus rantai itu,” jelasnya.
Di sisi lain, diskusi dengan kampus elite Inggris membuka banyak peluang nyata. Mulai dari transfer pengetahuan, kerja sama pengembangan teknologi strategis, sampai peningkatan kualitas dosen dan peneliti dalam negeri. Akses ke jaringan akademik dan industri global juga jadi nilai plus yang tak kalah penting.
Artikel Terkait
Laut yang Luas, Nasib yang Terjepit: Mengapa Sektor Perikanan Indonesia Masih Terpuruk?
Gibran Dituding Curang Saat Main Bola dengan Anak-anak di Wamena
Saat Penghina Berbalik Jadi Tontonan: Balasan bagi Para Pengejek Iman
Pilkada Lewat DPRD: Alarm Bahaya bagi Kedaulatan Rakyat