Prabowo Pacu Pendidikan, Kunjungan ke Inggris Jadi Langkah Strategis

- Minggu, 18 Januari 2026 | 11:25 WIB
Prabowo Pacu Pendidikan, Kunjungan ke Inggris Jadi Langkah Strategis

Prabowo Kejar Ketertinggalan Pendidikan, Langkah ke Inggris Bukan Sekadar Seremonial

Rencana Presiden Prabowo Subianto terbang ke Inggris untuk bertemu dengan sejumlah kampus top dunia mendapat sorotan. Bagi banyak pengamat, langkah ini lebih dari sekadar kunjungan kenegaraan biasa. Ini adalah sinyal kuat bahwa pemerintah serius mengejar ketertinggalan Indonesia, khususnya di bidang sains dan teknologi.

Amir Hamzah, seorang pengamat intelijen dan geopolitik, melihatnya sebagai bagian dari strategi besar. "Ini bukan sekadar safari akademik," tegasnya.

Menurutnya, pesan yang ingin disampaikan jelas: Prabowo memandang pendidikan, terutama STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), sebagai instrumen kekuatan negara. Bukan urusan sosial semata.

“Dalam perspektif geopolitik modern, pendidikan telah bergeser menjadi alat kekuatan nasional,” ujar Amir Hamzah, Ahad (18/1/2026). Negara-negara maju kini tak cuma andalkan militer atau ekonomi. Kapasitas riset, inovasi, dan penguasaan ilmu pengetahuan jadi penentu utama.

Pilihan Inggris sebagai tujuan pun punya alasan kuat. Negeri itu punya ekosistem riset dan pendidikan yang diakui dunia. Kampus seperti Oxford, Cambridge, atau Imperial College London bukan cuma simbol. Mereka adalah pusat produksi pengetahuan yang dampaknya langsung terasa di industri dan peradaban global.

“Riset di sana tidak berhenti di jurnal. Tapi masuk ke pasar global,” kata Amir.

Dia menilai Prabowo membaca situasi dengan tepat. Ketertinggalan Indonesia di bidang STEM berakibat langsung pada ketergantungan teknologi, lemahnya daya saing, dan posisi tawar yang rendah di kancah internasional. Fokus pada sains adalah orientasi jangka panjang yang kritis. Di era AI, energi terbarukan, dan bioteknologi, negara yang gagal kuasai ilmu pengetahuan akan tertinggal secara struktural.

“Kalau kita cuma jadi pasar, bukan produsen teknologi, maka ketergantungan itu akan terus berlanjut. Prabowo tampaknya ingin memutus rantai itu,” jelasnya.

Di sisi lain, diskusi dengan kampus elite Inggris membuka banyak peluang nyata. Mulai dari transfer pengetahuan, kerja sama pengembangan teknologi strategis, sampai peningkatan kualitas dosen dan peneliti dalam negeri. Akses ke jaringan akademik dan industri global juga jadi nilai plus yang tak kalah penting.

Nantinya, hasil riset kolaboratif diharapkan bisa menyerap pangsa pasar global dan memberi kontribusi langsung bagi pembangunan dari sektor industri, energi, hingga pertahanan dan kesehatan.

Namun begitu, Amir Hamzah melihat dimensi lain dari kunjungan ini: diplomasi strategis. Di tengah situasi global yang tidak menentu, dengan ketegangan geopolitik dan perang teknologi antarblok, Indonesia perlu bersikap cermat.

“Diplomasi pendidikan adalah soft power yang paling efektif,” ujarnya. Pendekatan ini jarang menimbulkan resistensi, justru membangun kepercayaan dan memperkuat posisi tawar.

Inggris, meski sudah keluar dari Uni Eropa, pengaruhnya tetap besar. Jaringan akademiknya mendunia, riset pertahanannya maju, dan perannya dalam kebijakan global berbasis pengetahuan tak diragukan. Dengan menjalin hubungan erat di sektor ini, Indonesia bisa menjaga keseimbangan tanpa harus terseret dalam konflik kepentingan negara-negara besar.

Gaya kepemimpinan Prabowo yang pragmatis dan strategis juga tercermin di sini. Berangkat dari latar belakang militer dan geopolitik, dia melihat pendidikan sebagai instrumen ketahanan nasional. Bukan sekadar urusan administratif kementerian.

“Ini pendekatan intelijen strategis. Membangun kekuatan dari hulu dari ilmu pengetahuan dan manusia,” tegas Amir.

Jika konsisten dijalankan, kebijakan semacam ini bisa menjadi warisan besar pemerintahan sekarang. Fondasi untuk Indonesia yang tak hanya besar secara demografi, tapi juga kuat secara intelektual dan teknologi.

Meski demikian, Amir Hamzah mengingatkan satu hal krusial. Keberhasilan misi ini sangat bergantung pada tindak lanjut di dalam negeri. Reformasi kurikulum, budaya riset, pendanaan pendidikan, hingga tata kelola universitas harus berjalan beriringan. Tanpa itu, semua usaha bisa sia-sia.

“Kalau hasil diskusi cuma berhenti di MoU, percuma. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengubah sistem pendidikan kita agar sejalan dengan standar global,” pungkasnya.

Jadi, perjalanan ke Inggris ini baru langkah awal. Tantangan sesungguhnya justru menanti di rumah.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar