Di sisi lain, Rusia sendiri justru memproyeksikan peningkatan produksinya. Tahun depan, produksi minyak mereka diprediksi naik menjadi 10,36 juta barel per hari, dan akan meningkat lagi di tahun 2026 mencapai 10,54 juta barel per hari. Ini tentu menambah beban pasokan global.
Data-data lain pun ikut berubah. OPEC merevisi proyeksi pertumbuhan produksi dari negara-negara di luar OPEC untuk 2025, naik 40 ribu barel per hari menjadi 0,95 juta barel per hari. Sementara itu, lembaga S&P Global justru memotong proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia tahun 2025 menjadi 730 ribu barel per hari, turun 16 ribu barel dari proyeksi sebelumnya.
Untuk kawasan Asia Pasifik, ada faktor lain yang berpengaruh: Cina. Throughput atau pemrosesan minyak mentah di Negeri Tirai Bambu itu turun 0,9% pada November 2025, menjadi 14,86 juta barel per hari. Ini adalah level terendah dalam kurun waktu enam bulan terakhir, dan turut memberi tekanan pada harga di wilayah ini.
Secara keseluruhan, tren penurunan harga di bulan Desember 2025 terlihat jelas pada berbagai patokan minyak dunia:
- Dated Brent merosot USD0,95 jadi USD62,70 per barel.
- WTI (Nymex) turun lebih dalam, USD1,61 ke level USD57,87 per barel.
- Brent (ICE) anjlok USD2,02 menjadi USD61,64 per barel.
- Basket OPEC mengalami penurunan terbesar, USD2,61, menjadi USD61,85 per barel.
- Dan ICP Indonesia, seperti disebutkan, menyusut USD1,73 ke posisi USD61,10 per barel.
Jadi, gabungan antara pasokan yang melimpah dan permintaan yang lesu, ditambah sentimen geopolitik, benar-benar menekan harga minyak mentah Indonesia di penghujung tahun 2025.
Artikel Terkait
Listrik Aceh Tamiang 98 Persen Pulih, Tim PLN Fokus Hidupkan Enam Desa Terakhir
Sopir Angkot Pamer Kemaluan, Aksi Mesum Terekam dan Viral
Undangan Istana untuk Guru Besar UGM Berujung Penolakan di Pintu
Akun IndepenSumatera Dituding Rasis, Grok Anggap Itu Kritik Sistem