Pertarungan Batin: Konsistensi vs. Oportunisme di Medan Jiwa

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 06:25 WIB
Pertarungan Batin: Konsistensi vs. Oportunisme di Medan Jiwa

Jiwa Konsisten dan Godaan, Apa itu?

Ini cerita lama. Sudah sering terjadi. Di dalam diri kita, jiwa itu bukan ruang kosong yang sunyi. Lebih tepatnya, ia adalah medan pertempuran. Tempat nilai-nilai kita diuji habis-habisan. Di situlah konsistensi digodam cobaan, sementara oportunisme menawarkan jalan pintas dengan senyum manisnya.

Konsistensi, ya, itu bukan soal jadi kaku dan membatu. Bukan. Ia lebih mirip kesetiaan yang lentur. Bisa menyesuaikan langkah, tapi tak pernah benar-benar mengkhianati arah yang sudah ditetapkan.

Di sisi lain, ada oportunisme. Seni mengambil celah. Ia lihai sekali membaca arah angin, tapi sayangnya sering lupa di mana kompasnya ditaruh. Ketika keduanya berjumpa, kita ditantang untuk memilih. Bukan cuma pilihan yang menguntungkan, tapi yang punya makna.

Jiwa yang konsisten itu tumbuh dari kesadaran. Dari kebiasaan menimbang-nimbang. Butuh keberanian untuk menunda keuntungan sesaat, dan kesanggupan menanggung konsekuensi. Konsistensi nggak datang tiba-tiba. Ia dipahat, pelan-pelan, lewat disiplin batin.

Orang yang konsisten paham betul. Integritas itu bukan hiasan. Ia adalah tulang punggung.

Saat godaan datang entah itu berbentuk pujian, tawaran kekuasaan, atau sekadar kemudahan pertanyaannya cuma satu: apa langkah ini selaras dengan nilai yang selama ini kuhidupi? Pertanyaan sederhana. Tapi jawabannya? Seringkali mahal harganya.

Oportunisme menawarkan hal sebaliknya: jalan pintas. Ia berbisik, dunia ini terlalu cepat buat setia. Terlalu kejam untuk sabar. Dalam logikanya, prinsip cuma beban. Komitmen? Itu cuma alat tawar-menawar belaka. Dan oportunisme ini nggak selalu tampil kasar. Justru sering kali ia berwajah sangat rasional. Berbahasa efisiensi. Berargumen pragmatis.

Tapi di balik kecerdikannya, ada kekosongan yang pelan-pelan melebar. Setiap pengkhianatan kecil pada janji, pada kebenaran, atau pada diri sendiri selalu meninggalkan retak. Retak-retak itu lama-lama numpuk.

Namun begitu, jadi konsisten bukan berarti nutup mata sama realitas. Dunia memang berubah, dan perubahan itu menuntut adaptasi. Hanya saja, adaptasi yang bermartabat itu beda banget sama oportunisme yang serba kebetulan. Konsistensi yang matang tahu kapan harus mengalah tanpa menyerah. Kapan harus belok tanpa tersesat. Ia seperti sungai, setia menuju laut, meski harus berkelok-kelok mengikuti kontur bumi.

Oportunisme itu genangan. Mudah berpindah, tapi tak pernah sampai ke mana-mana.

Dalam hubungan antar manusia, konsistensi adalah mata uang kepercayaan. Janji yang ditepati, sikap yang bisa ditebak, keberpihakan yang jujur semua itu membangun rasa aman. Kalau konsistensi runtuh, kepercayaan ikut roboh. Oportunisme mungkin ngasih keuntungan sesaat: posisi, akses, pujian. Tapi ia memiskinkan hubungan. Orang-orang jadi waspada. Kata-kata kehilangan bobot. Kerja sama berubah jadi transaksi dingin belaka.

Di ranah publik, krisis sering banget berawal dari sini: ketidakkonsistenan nilai. Saat prinsip dikompromikan demi kepentingan jangka pendek, kebijakan jadi rapuh. Ambil contoh oportunisme politik. Bisa memikat dengan janji cepat, tapi mengabaikan dampak jangka panjang. Masyarakatlah yang akhirnya menanggung biayanya. Dari keputusan-keputusan yang lahir tanpa integritas.


Halaman:

Komentar